Rabu, 30 September 2009
berpetualang di kampung sendiri
berpetualang di kampung sendiri aku mulai dari sejak pulkam lebaran (mudik) dari pontianak-mataram. ternyata banyak yang seru dan tentu saja menambah pengetahuan. itung2 itu aku main main etnografis...tunggu kabar selanjutnya...
Senin, 08 Juni 2009
Ke Bali
This weekend (13-15 of june), i will be in to attend and present my paper in APSA9 (Asia Pacific Sociological Association 9) that's held by UI.Hopefully, my presentation will go well...semangat!
Rabu, 29 April 2009
Rabu, 29 februari 2009
Tidak terasa, sudah lama tidak menulis ataupun memposting gambar ataupun segala bentuk rekaman dalam blog ini. Sejak kedatangan dari Singkawang - kembali ke Jogja tanggal 17 februari - rutinitas keseharian mayoritas diisi oleh kesibukan untuk tesis. Meskipun sesampai di Jogja, saya benar-benar yakin (haqqul yakin) kalau dosen pembimbing tesis* saya ternyata memang sedang sakit. Namun, sembari mendoakan beliau semoga cepat sembuh - alhamdulillah beliau akhir-akhir ini sudah mulai ngampus dan terlihat sehat - saya pun tidak mengurangi semangat untuk menulis tesis. Penulisan tesis, sebuah karya akademik yang disebut sebagai sebagian persyaratan untuk meraih gelar sarjana S-2 saya serahkan kira-kira akhir maret, dan saat itu pun saya belum sempat bertatap muka dengan beliau. Saya hanya menitipkan lewat sekretaris tempat beliau berkantor, sembari tidak lupa konfirmasi kepada beliau akan hal tersebut. Beliau pun saat itu - setiap saya sms, setidaknya untuk urusan tesis dan kampus - selalu membalas sms saya. Draft tesis yang saya serahkan saat itu memang sudah selengkapnya - dalam artian umum dari Bab I - V - karena saya mendapat informasi dari rekan sejawat bimbingan saya, kalau beliau menyarankan penulisan draft tesis bimbingan beliau sebaiknya secara komprehensif (seluruh bab), dan memang saya berbuat demikian. Ketika beliau selesai mengoreksi - kira-kira seminggu setelah saya menyerahkan draft awal - beliau sempat memberitahu saya kalau draft tesis saya sudah selesai dan bisa diambil di kantor beliau. Saya pun besoknya mengambil draft tesis koreksi yang sudah dikoreksi, saat itu saya sempat bertemu beliau namun tidak banyak berbincang karena ternyata beliau siang itu akan mengajar. Beliau sendiri yang menyatakan kalau beliau tidak sempat mendiskusikan tesis saya tersebut karena alasan tanggungjawab akademik tersebut. Saya pun mengambilkan draft tesis rekan sejawat** saya karena saya malam sebelumnya sudah dimintai tolong olehnya karena dia berada di luar kota untuk alasan keluarga.
Hari itu juga di perpust pasca (belakang atau utaranya Grha Sabha Permana/GSP) - tempat yang menurut saya sungguh representatif utk penulisan tesis dan main internet - saya memeriksa hasil koreksi draft tesis saya. Alhamdulillah tidak banyak yang harus saya perbaiki, namun saya sempat kaget saat melihat draft rekan saya karena di bagian judul, dosen pembimbing kami menulis kalau dia disarankan ujian secepatnya sekitar tanggal 22-23 april. Saat itu juga saya langsung mengirim sms ke dia dan memberitahu hal tersebut. Tidak berapa lama dia menelpon saya dan seolah tidak percaya dia menanyakan hal tersebut. Saya pun di luar perpustakaan membacakan dan meyakinkan dia akan hal tersebut. Diapun diakhir percakapan kami memutuskan untuk berangkat ke Yogya hari itu juga dan akan tiba besok harinya.
Saya menyerahkan draft revisi saya tanggal 20 april, dua hari setelah itu pembimbing saya memberi kabar bahwa sudah dikoreksi, hari itu juga setelah selesai kuliah teori simbol saya ke kantor beliau bersama rekan sejawat satu bimbingan tersebut menghadap. Rekan saya menyerahkan revisi akhirnya, sedang saya mengambil hasil koreksi draft tesis saya. Sewktu itu saya sempat agak kaget karena saya membaca di bagian depan draft tesis saya, ditulisi oleh beliau untuk mempersiapkan/menjadualkan ujian untuk saya. Saya hanya diminta revisi sedikit mengenai informan pada bagian metodologi penelitian. Beliaupun memberitahu saya (di depan rekan tersebut) bahwa beliau ada waktu untuk ujian tanggal 4-8 mei atau 18 mei. Saya pun mengiyakan sembari nanti berjanji untuk konfirmasi tanggal pasti ujian saya setelah saya konfirmasi dengan penguji-penguji lainnya (yang belum saya kontak saat itu). Beliau menyetujui saya, kemudian saya pun keluar bersama rekan saya tersebut. Alhamdulillah, tidak terasa saya berujar karena mengetahui saya akan ujian pada bulan mei mendatang. Sungguh, sebelumnya saya tidak menyangka akan ujian secepat itu, karena sebenarnya saya menargetkan bulan juni melihat kondisi beliau. Teman sejawat saya itupun memberi selamat dan lantas mengigatkan kalau secepatnya mengurus syarat-syarat ujian tesis yang memang sungguh ribet. Rekan saya akan ujian - sebagai orang pertama angkatan 2007 pascasarjana prodi antro ugm - pada tanggal 4 mei pukul 13.00, sedang saya Alhamdulillah akan menjadi orang kedua setelah dia, yang akhinya fix ujian pada tanggal 6 mei pukul 13.00. Ternyata pada tanggal yang sama dengan ujian saya, ada salah satu rekan juga yang akan ujian pada pukul 15.00. Mudah-mudahan ujian saya dan rekan-rekan saya akan berjalan lancar dan kami bisa lulus dengan nilai terbaik, amin...
Hari itu juga di perpust pasca (belakang atau utaranya Grha Sabha Permana/GSP) - tempat yang menurut saya sungguh representatif utk penulisan tesis dan main internet - saya memeriksa hasil koreksi draft tesis saya. Alhamdulillah tidak banyak yang harus saya perbaiki, namun saya sempat kaget saat melihat draft rekan saya karena di bagian judul, dosen pembimbing kami menulis kalau dia disarankan ujian secepatnya sekitar tanggal 22-23 april. Saat itu juga saya langsung mengirim sms ke dia dan memberitahu hal tersebut. Tidak berapa lama dia menelpon saya dan seolah tidak percaya dia menanyakan hal tersebut. Saya pun di luar perpustakaan membacakan dan meyakinkan dia akan hal tersebut. Diapun diakhir percakapan kami memutuskan untuk berangkat ke Yogya hari itu juga dan akan tiba besok harinya.
Saya menyerahkan draft revisi saya tanggal 20 april, dua hari setelah itu pembimbing saya memberi kabar bahwa sudah dikoreksi, hari itu juga setelah selesai kuliah teori simbol saya ke kantor beliau bersama rekan sejawat satu bimbingan tersebut menghadap. Rekan saya menyerahkan revisi akhirnya, sedang saya mengambil hasil koreksi draft tesis saya. Sewktu itu saya sempat agak kaget karena saya membaca di bagian depan draft tesis saya, ditulisi oleh beliau untuk mempersiapkan/menjadualkan ujian untuk saya. Saya hanya diminta revisi sedikit mengenai informan pada bagian metodologi penelitian. Beliaupun memberitahu saya (di depan rekan tersebut) bahwa beliau ada waktu untuk ujian tanggal 4-8 mei atau 18 mei. Saya pun mengiyakan sembari nanti berjanji untuk konfirmasi tanggal pasti ujian saya setelah saya konfirmasi dengan penguji-penguji lainnya (yang belum saya kontak saat itu). Beliau menyetujui saya, kemudian saya pun keluar bersama rekan saya tersebut. Alhamdulillah, tidak terasa saya berujar karena mengetahui saya akan ujian pada bulan mei mendatang. Sungguh, sebelumnya saya tidak menyangka akan ujian secepat itu, karena sebenarnya saya menargetkan bulan juni melihat kondisi beliau. Teman sejawat saya itupun memberi selamat dan lantas mengigatkan kalau secepatnya mengurus syarat-syarat ujian tesis yang memang sungguh ribet. Rekan saya akan ujian - sebagai orang pertama angkatan 2007 pascasarjana prodi antro ugm - pada tanggal 4 mei pukul 13.00, sedang saya Alhamdulillah akan menjadi orang kedua setelah dia, yang akhinya fix ujian pada tanggal 6 mei pukul 13.00. Ternyata pada tanggal yang sama dengan ujian saya, ada salah satu rekan juga yang akan ujian pada pukul 15.00. Mudah-mudahan ujian saya dan rekan-rekan saya akan berjalan lancar dan kami bisa lulus dengan nilai terbaik, amin...
Kamis, 19 Februari 2009
sedang trance
lihat bagaimana seorang tatung sedang 'trance' saat dimana roh atau datuk yang merasuki tubuhnya beraksi.dikabarkan roh atau datuk tersebut hanya meminjam tubuh atau badan kasar tatung tersebut sehingga diyakini yang berbuat dan bekerja bukan tatung itu sendiri melainkan spirit tersebut.coba bayangkan bagaimana tatung tersebut bisa berdiri di atas golok, ataupun tidur di atasnya, duduk di atas paku atau golok.belum termasuk juga para tatung tersebut menusukkan jarum atau benda-benda runcing lainnya ke beberapa bagian tubuh yang umumnya bagian pipi (tembus kiri kanan).memang atraksi tatung ini tidak bisa dipungkiri mendapat pengaruh dari etnis lain seperti dayak dan melayu.bahkan para tatung yang ada di Singkawang pun tidak melulu dari etnis tionghoa saja,ada juga dari etnis dayak pun melayu.roh atau datuk yang merasuki raga tatung mempunyai ciri tersendiri yang busa diidetifikasi tampilan fisik tatung (asesoris yang dikenakan,dll),bagaimana dia berlaku (behavior) saat sedang 'trance' seperti memakan (menyembelih) hewan hidup seperti ayam,anak anjing,daging babi mentah dan lain sebagainya.dikabarkan itu semua adalah permintaan dari roh atau datuk yang merasuki tatung tersebut.
Senin, 09 Februari 2009
Senin, 05 Januari 2009
pemain hian di hangmui
lihat, dengar dan rasakan. sungguh mengesankan melihat dan menikmati suara hian yang dimainkan...hian adalah salah satu alat musik tradisional tionghoa (singkawang) yang masih tersisa dan menurut saya harus dapat dilestarikan. sudah sangat jarang orang-orang tionghoa yang mengerti mengenai alat musik ini, apalagi bisa memainkannnya. biasanya alat musik ini juga dimainkan saat ada acara-acara ultah Pak Kung (Pekong) bersama salah satu grup musik seperti Kesong-Kesong yang juga sudah sangat jarang ada di Singkawang...
Sabtu, 27 Desember 2008
Konflik Naga: Pintu Masuk Pemain Baru
Tanggal 5 Desember 2008 merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Singkawang. Masyarakat Singkawang ingin menjadi saksi pelaksanaan “ancaman” yang dicetuskan oleh beberapa kelompok tertentu, terkait dengan isu patung naga yang dibangun – baru separuh – di salah satu perempatan jalan tengah Kota Singkawang. Sebelumnya kelompok ini memang sempat memberi tenggat waktu sampai hari “H” apabila patung naga tersebut tidak dihancurkan maka selanjutnya akan dilakukan tindakan sepihak untuk menghancurkannya saat itu juga.
Kurang lebih selama tiga jam masyarakat Singkawang disuguhi ketegangan yang menjurus konflik horizontal. Sejatinya aksi sepihak yang akan dilakukan oleh kelompok yang memberi tenggat waktu tersebut berhadapan dengan kelompok lain yang tentu saja kontra dengan keinginan kelompok sebelumnya. Bukan suatu kebetulan juga polemik patung naga ini disikapi secara pro dan kontra antara dua kelompok yang membawa nama etnis masing-masing. Pihak yang pro akan pembangunan patung naga ini berada di bawah “bendera merah” etnis dayak (DAD/Dewan Adat Dayak), sebaliknya yang kontra dilanjutkannya pembangunan patung naga tersebut bernaung di bawah “bendera putih” etnis Melayu (FPM/Front Pembela Melayu).
Kedua kelompok mempunyai blue print yang jelas akan aksi yang dilakukan tersebut. Kelompok putih (etnis Melayu) menganggap pembangunan patung naga tersebut akan menjurus perpecahan di masyarakat karena menyimbolkan etnis tertentu di Singkawang. Ditakutkan penonjolan simbol salah satu etnis akan memicu etnis lain untuk membangun atau memunculkan simbol kelompoknya. Pihak ini beranggapan bahwa Singkawang adalah kota multietnik, bukan milik salah satu etnik tertentu. Apalagi kelompok ini mendapat “legitimasi” bahwa patung naga atau sesuatu yang menyimbolkan naga tidak boleh dibuat mainan, dalam hal ini tidak boleh dibangun atau dipasang di sembarang tempat semacam perempatan jalan. Setidaknya dalam orasi yang dilakukan oleh para wakil pihak putih ini – pada tanggal 5 desember – mengungkapkan bahwa naga adalah hewan sakral etnis Tionghoa yang tidak seharusnya diperlakukan sedemikian rupa, kecuali kalau dibangun pada tempat yang semestinya seperti di Pak Kung. Dalam orasi ini juga dikatakan sejatinya kelompok ini tidak memusuhi etnis lainnya – Tionghoa dan Dayak – melainkan hanya menentang pembangunan patung yang hanya menunjukkan keinginan pihak tertentu (baca: pemerakarsa) untuk mencari publisitas semata.
Sebaliknya kelompok merah ini pun tidak salah dengan mendukung pembangunan patung naga tersebut. Pihak ini turun ke jalan menentang FPM berlandaskan kecintaan akan Singkawang, yang menginginkan Singkawang menjadi kota Pariwisata, kota yang maju dan tentu saja nantinya berbuah kemaslahatan seluruh penduduk Singkawang. Yang terutama pihak ini tidak menginginkan adanya aksi sepihak oleh kelompok tertentu dengan mengandalkan penggalangan kekuatan (baca: massa), padahal ada pihak-pihak berwenang – seperti Pemkot dan jajaran instansinya – untuk menyelesaikan permasalahan patung tersebut. Setidaknya demikian sekilas background aksi yang dilakukan oleh dua kubu ini.
Masuknya Pemain Baru
Siapa pun orangnya yang ada di Singkawang, terutama yang sempat turun menyaksikan “letupan” tanggal 5 Desember kemarin pasti mafhum akan adanya “muka baru” yang ikut bermain di lapangan. Tidak hanya bermain sekilas semata, bahkan ikut mengambil peran kunci dalam peristiwa tersebut. Pemain baru ini berdiri sejajar dengan kelompok yang membawa “bendera putih” menolak diteruskannya pembangunan patung naga tersebut. Ribuan orang yang “tumplek” di jalan saat itu, dengan jelas melihat atribut pemain baru ini. Lucunya, atribut pemain baru ini yang satu-satunya terlihat “pongah” dengan beragam piranti lainnya – kendaraan dan sound system yang diboyong ke lapangan – selama aksi 5 Desember itu. Sebelumnya, saya berpikir kalau pemain baru ini hanya “membonceng” pihak FPM, namun kenyataan sangat berbeda di lapangan. Dimana atribut FPM? Atau apakah FPM dan koalisi LSM Singkawang ikut pemain baru ini? Atau jangan-jangan pemain baru ini (memang) merepresentasikan FPM dan salah satu agama tertentu di Singkawang?
Menilik dari peristiwa 5 Desember lalu, sudah sangat jelas menjadi momen terbaik bagi pemain baru ini untuk unjuk gigi, sekaligus memperkenalkan dirinya secara berterang di hadapan khalayak Singkawang. Dan harus diakui, pemain baru ini sukses melaksanakan perannya. Terlepas apakah itu mendapat simpati atau tidak dari penduduk Singkawang – khususnya etnis dan agama tertentu yang dianggap “diwakili” olehnya.
Pemain baru ini memang masih terlihat “sopan” dan tahu diri. Sangat berbeda dengan ulahnya di sebagian besar kota yang ada di Indonesia. Tidak ada tindakan anarkis destruktif sebagaimana biasa identik setiap pemain ini turun ke lapangan. Di Singkawang, sebelum peristiwa 5 Desember terjadi, pemain baru ini sudah memajang atribut dirinya di beberapa tempat strategis menindaklanjuti pendeklarasian yang menandai kedatangannya di Singkawang. Pemain baru ini (untungnya) masih mau berdialog dengan pemain-pemain lama yang merupakan pemilik Singkawang. Dan peristiwa 5 Desember lalu merupakan sebuah jalan masuk yang mulus bagi pemain baru ini. Satu hal yang tidak bisa lepas dari pemain baru ini adalah “kedok” agama (Islam) yang selalu dipakai olehnya, seolah merepresentasikan seluruh atau mayoritas pemeluk agama tersebut akan setiap aksinya. Apakah pemain baru ini memang merepresentasikan umat Islam (Melayu) Singkawang dalam setiap aksinya? Tidak! Namun embel-embel (Islam) yang dipakainya tetap menyisakan penasaran bagi yang nonMuslim. Apalagi umat Islam terbesar di Singkawang “kadung” diidentikkan dengan etnis Melayu, yang tentu saja memberi tanya besar bagi setiap etnis nonMelayu Singkawang.
Hanya sebuah Solusi
Peristiwa 5 Desember memang tidak berujung konflik fisik. Hal ini harus kita beri acungan jempol dan standing ovation bagi kinerja seluruh aparat Kepolisian Singkawang yang dipimpin langsung oleh Wakapolres Singkawang. Kedepannya kita harapkan memang tidak akan ada lagi intrik serupa atau konflik horizontal lainnya yang tentu saja akan dapat memporakporandakan Kota Singkawang yang kita cintai.
Belajar dari peristiwa 5 Desember tersebut, terdapat beberapa hal yang harusnya dengan sadar dan arif kita semua layak sikapi. Sebagaimana pernah diungkapkan oleh seorang tokoh besar etnis Tionghoa yang pernah dizalimi oleh etnisnya sendiri kepada saya beberapa saat setelah peristiwa tersebut terjadi. Beliau mengungkapkan bahwa kalau hanya sekedar mau berbuat untuk kepentingan (rakyat) Singkawang, kenapa dana pembangunan patung naga tersebut tidak dihibahkan untuk membantu rakyat Singkawang. Misalnya bantuan dapat diberikan ke etnis Tionghoa yang ada di bagian Selatan Singkawang, etnis Melayu yang ada di utara pun banyak yang memerlukan bantuan, atau etnis Dayak yang ada di Timur pun banyak yang senasib dengan saudara-saudara Tionghoa dan Melayu. Intinya bantuan dapat diberikan kepada semua rakyat Singkawang tanpa membedakan etnisnya, bukan dengan membuat sensasi yang hanya dapat menimbulkan konflik.
Harus diingat juga bahwa hendaknya pendekatan budaya tidak dilupakan untuk menyelesaikan konflik patung naga ini. Hal ini sebenarnya dilupakan oleh berbagai pihak, atau mungkin seolah diabaikan begitu rupa. Etnis Tionghoa mana yang tidak menganggap naga sebagai salah sebuah hewan sakral dalam kepercayaan dan mitologi leluhurnya? Dari anak-anak kecil hingga sudah peyot reyot, laki-laki atau perempuan, atau meskipun dia itu miskin atau sekaya apapun, naga bagi etnis Tionghoa merupakan sesuatu yang harus dihormati, tidak boleh dibuat main-main meskipun dengan alasan apapun. Di alam bawah sadar masyarakat Tionghoa (Singkawang) hal ini tertanam begitu mendalam. Terlalu besar resikonya menganggap remeh atau mempermainkan sesuatu yang sakral, apalagi hanya sekedar dibangun di perempatan jalan begitu rupa. Selayaknya masih harus diingat dan belajar dari peristiwa sebelumnya bahwa tidak dihormatinya naga – pernah dimainkan tanpa menjalankan prosesi ritual tertentu – mengakibatkan hal buruk bahkan kematian bagi mereka yang tidak menghormatinya. Siapa berani mengambil resiko sedemikian rupa? Apakah pengusaha tersebut yang jelas-jelas seorang Tionghoa mau menanggung resikonya? Saya rasa tidak.
Untuk semua pihak dan pemain lama di Singkawang, hendaknya sadar bahwa pemain baru sama sekali bukan representasi etnis dan agama tertentu dalam setiap aksinya. Pemain lama pun seharusnya mengambil sikap apakah mau dipakai sebagai kedok oleh pemain baru ini. Sebenarnya siapapun itu, entah etnis atau agama tertentu seharusnya memang tidak menggunakan kekerasan dalam setiap aksinya. Ini yang harus disepakati oleh semua pihak di Singkawang. Tidak susah berdialog – antara semua pihak – untuk menyelesaikan setiap konflik.
Kembali kepada pemerintah Kota Singkawang sebagai pihak yang paling berwenang. Apakah akan melanjutkan sifat dan sikap “memble” sedemikian rupa sehingga membiarkan “api” yang semula kecil kemudian membesar dan akhirnya membakar Singkawang baru bertindak? Atau mungkin Pemkot sedang kebingungan bagaimana menjadikan Singkawang menjadi Spektakuler, sehingga secara asal dan untuk kepentingan pragmatis semata melupakan budaya dan kesakralannya? Kalau memang mau “menjual” kesakralan salah satu budaya tertentu untuk tujuan wisata, tidak lantas mengabaikan aturan, prosesi, dan ritual dari budaya itu. Sebaliknya bahkan prosesi dan ritual itulah tempat nilai jual budaya tersebut. Saya yakin Pemkot pasti sudah banyak belajar dari Bali ataupun Yogya – kalau belum seharusnya segera – bagaimana mengemas sesuatu yang sakral menjadi aset wisata yang sangat menguntungkan. Bali merepresentasikan religiusitas penduduknya yang mayoritas Hindu, sedang Yogya mampu menjual model “keIslaman” rakyatnya sehingga tidak terbilang wisatawan domestik maupun manca tanpa bosan mendatangi dua tempat ini. Bali dan Yogya memang sangat berbeda dengan Singkawang. Historisnya, penduduknya, nuansanya, semuanya berbeda. Kenapa tidak mulai dari yang kecil atau sesuatu yang sudah umum namun identik dengan Singkawang? Yogya salah satunya hanya mengandalkan pohon beringin – yang disakralkan – untuk mengundang wisatawan setiap malam berkungjung ke salah satu sudut Kota Yogya tersebut.
Bagaimana dengan Singkawang? Memang tidak mudah dan tentu saja memerlukan waktu, namun tidak salah untuk mulai sekarang berusaha mewujudkannya. Dan Pemkot sebaiknya legawa dan tidak arogan kepada pihak-pihak yang tulus berbuat untuk Singkawang, bukan pihak yang hanya mencari sensasi dan publisitas semata, dan ternyata memicu konflik.
Tanggal 5 Desember 2008 merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Singkawang. Masyarakat Singkawang ingin menjadi saksi pelaksanaan “ancaman” yang dicetuskan oleh beberapa kelompok tertentu, terkait dengan isu patung naga yang dibangun – baru separuh – di salah satu perempatan jalan tengah Kota Singkawang. Sebelumnya kelompok ini memang sempat memberi tenggat waktu sampai hari “H” apabila patung naga tersebut tidak dihancurkan maka selanjutnya akan dilakukan tindakan sepihak untuk menghancurkannya saat itu juga.
Kurang lebih selama tiga jam masyarakat Singkawang disuguhi ketegangan yang menjurus konflik horizontal. Sejatinya aksi sepihak yang akan dilakukan oleh kelompok yang memberi tenggat waktu tersebut berhadapan dengan kelompok lain yang tentu saja kontra dengan keinginan kelompok sebelumnya. Bukan suatu kebetulan juga polemik patung naga ini disikapi secara pro dan kontra antara dua kelompok yang membawa nama etnis masing-masing. Pihak yang pro akan pembangunan patung naga ini berada di bawah “bendera merah” etnis dayak (DAD/Dewan Adat Dayak), sebaliknya yang kontra dilanjutkannya pembangunan patung naga tersebut bernaung di bawah “bendera putih” etnis Melayu (FPM/Front Pembela Melayu).
Kedua kelompok mempunyai blue print yang jelas akan aksi yang dilakukan tersebut. Kelompok putih (etnis Melayu) menganggap pembangunan patung naga tersebut akan menjurus perpecahan di masyarakat karena menyimbolkan etnis tertentu di Singkawang. Ditakutkan penonjolan simbol salah satu etnis akan memicu etnis lain untuk membangun atau memunculkan simbol kelompoknya. Pihak ini beranggapan bahwa Singkawang adalah kota multietnik, bukan milik salah satu etnik tertentu. Apalagi kelompok ini mendapat “legitimasi” bahwa patung naga atau sesuatu yang menyimbolkan naga tidak boleh dibuat mainan, dalam hal ini tidak boleh dibangun atau dipasang di sembarang tempat semacam perempatan jalan. Setidaknya dalam orasi yang dilakukan oleh para wakil pihak putih ini – pada tanggal 5 desember – mengungkapkan bahwa naga adalah hewan sakral etnis Tionghoa yang tidak seharusnya diperlakukan sedemikian rupa, kecuali kalau dibangun pada tempat yang semestinya seperti di Pak Kung. Dalam orasi ini juga dikatakan sejatinya kelompok ini tidak memusuhi etnis lainnya – Tionghoa dan Dayak – melainkan hanya menentang pembangunan patung yang hanya menunjukkan keinginan pihak tertentu (baca: pemerakarsa) untuk mencari publisitas semata.
Sebaliknya kelompok merah ini pun tidak salah dengan mendukung pembangunan patung naga tersebut. Pihak ini turun ke jalan menentang FPM berlandaskan kecintaan akan Singkawang, yang menginginkan Singkawang menjadi kota Pariwisata, kota yang maju dan tentu saja nantinya berbuah kemaslahatan seluruh penduduk Singkawang. Yang terutama pihak ini tidak menginginkan adanya aksi sepihak oleh kelompok tertentu dengan mengandalkan penggalangan kekuatan (baca: massa), padahal ada pihak-pihak berwenang – seperti Pemkot dan jajaran instansinya – untuk menyelesaikan permasalahan patung tersebut. Setidaknya demikian sekilas background aksi yang dilakukan oleh dua kubu ini.
Masuknya Pemain Baru
Siapa pun orangnya yang ada di Singkawang, terutama yang sempat turun menyaksikan “letupan” tanggal 5 Desember kemarin pasti mafhum akan adanya “muka baru” yang ikut bermain di lapangan. Tidak hanya bermain sekilas semata, bahkan ikut mengambil peran kunci dalam peristiwa tersebut. Pemain baru ini berdiri sejajar dengan kelompok yang membawa “bendera putih” menolak diteruskannya pembangunan patung naga tersebut. Ribuan orang yang “tumplek” di jalan saat itu, dengan jelas melihat atribut pemain baru ini. Lucunya, atribut pemain baru ini yang satu-satunya terlihat “pongah” dengan beragam piranti lainnya – kendaraan dan sound system yang diboyong ke lapangan – selama aksi 5 Desember itu. Sebelumnya, saya berpikir kalau pemain baru ini hanya “membonceng” pihak FPM, namun kenyataan sangat berbeda di lapangan. Dimana atribut FPM? Atau apakah FPM dan koalisi LSM Singkawang ikut pemain baru ini? Atau jangan-jangan pemain baru ini (memang) merepresentasikan FPM dan salah satu agama tertentu di Singkawang?
Menilik dari peristiwa 5 Desember lalu, sudah sangat jelas menjadi momen terbaik bagi pemain baru ini untuk unjuk gigi, sekaligus memperkenalkan dirinya secara berterang di hadapan khalayak Singkawang. Dan harus diakui, pemain baru ini sukses melaksanakan perannya. Terlepas apakah itu mendapat simpati atau tidak dari penduduk Singkawang – khususnya etnis dan agama tertentu yang dianggap “diwakili” olehnya.
Pemain baru ini memang masih terlihat “sopan” dan tahu diri. Sangat berbeda dengan ulahnya di sebagian besar kota yang ada di Indonesia. Tidak ada tindakan anarkis destruktif sebagaimana biasa identik setiap pemain ini turun ke lapangan. Di Singkawang, sebelum peristiwa 5 Desember terjadi, pemain baru ini sudah memajang atribut dirinya di beberapa tempat strategis menindaklanjuti pendeklarasian yang menandai kedatangannya di Singkawang. Pemain baru ini (untungnya) masih mau berdialog dengan pemain-pemain lama yang merupakan pemilik Singkawang. Dan peristiwa 5 Desember lalu merupakan sebuah jalan masuk yang mulus bagi pemain baru ini. Satu hal yang tidak bisa lepas dari pemain baru ini adalah “kedok” agama (Islam) yang selalu dipakai olehnya, seolah merepresentasikan seluruh atau mayoritas pemeluk agama tersebut akan setiap aksinya. Apakah pemain baru ini memang merepresentasikan umat Islam (Melayu) Singkawang dalam setiap aksinya? Tidak! Namun embel-embel (Islam) yang dipakainya tetap menyisakan penasaran bagi yang nonMuslim. Apalagi umat Islam terbesar di Singkawang “kadung” diidentikkan dengan etnis Melayu, yang tentu saja memberi tanya besar bagi setiap etnis nonMelayu Singkawang.
Hanya sebuah Solusi
Peristiwa 5 Desember memang tidak berujung konflik fisik. Hal ini harus kita beri acungan jempol dan standing ovation bagi kinerja seluruh aparat Kepolisian Singkawang yang dipimpin langsung oleh Wakapolres Singkawang. Kedepannya kita harapkan memang tidak akan ada lagi intrik serupa atau konflik horizontal lainnya yang tentu saja akan dapat memporakporandakan Kota Singkawang yang kita cintai.
Belajar dari peristiwa 5 Desember tersebut, terdapat beberapa hal yang harusnya dengan sadar dan arif kita semua layak sikapi. Sebagaimana pernah diungkapkan oleh seorang tokoh besar etnis Tionghoa yang pernah dizalimi oleh etnisnya sendiri kepada saya beberapa saat setelah peristiwa tersebut terjadi. Beliau mengungkapkan bahwa kalau hanya sekedar mau berbuat untuk kepentingan (rakyat) Singkawang, kenapa dana pembangunan patung naga tersebut tidak dihibahkan untuk membantu rakyat Singkawang. Misalnya bantuan dapat diberikan ke etnis Tionghoa yang ada di bagian Selatan Singkawang, etnis Melayu yang ada di utara pun banyak yang memerlukan bantuan, atau etnis Dayak yang ada di Timur pun banyak yang senasib dengan saudara-saudara Tionghoa dan Melayu. Intinya bantuan dapat diberikan kepada semua rakyat Singkawang tanpa membedakan etnisnya, bukan dengan membuat sensasi yang hanya dapat menimbulkan konflik.
Harus diingat juga bahwa hendaknya pendekatan budaya tidak dilupakan untuk menyelesaikan konflik patung naga ini. Hal ini sebenarnya dilupakan oleh berbagai pihak, atau mungkin seolah diabaikan begitu rupa. Etnis Tionghoa mana yang tidak menganggap naga sebagai salah sebuah hewan sakral dalam kepercayaan dan mitologi leluhurnya? Dari anak-anak kecil hingga sudah peyot reyot, laki-laki atau perempuan, atau meskipun dia itu miskin atau sekaya apapun, naga bagi etnis Tionghoa merupakan sesuatu yang harus dihormati, tidak boleh dibuat main-main meskipun dengan alasan apapun. Di alam bawah sadar masyarakat Tionghoa (Singkawang) hal ini tertanam begitu mendalam. Terlalu besar resikonya menganggap remeh atau mempermainkan sesuatu yang sakral, apalagi hanya sekedar dibangun di perempatan jalan begitu rupa. Selayaknya masih harus diingat dan belajar dari peristiwa sebelumnya bahwa tidak dihormatinya naga – pernah dimainkan tanpa menjalankan prosesi ritual tertentu – mengakibatkan hal buruk bahkan kematian bagi mereka yang tidak menghormatinya. Siapa berani mengambil resiko sedemikian rupa? Apakah pengusaha tersebut yang jelas-jelas seorang Tionghoa mau menanggung resikonya? Saya rasa tidak.
Untuk semua pihak dan pemain lama di Singkawang, hendaknya sadar bahwa pemain baru sama sekali bukan representasi etnis dan agama tertentu dalam setiap aksinya. Pemain lama pun seharusnya mengambil sikap apakah mau dipakai sebagai kedok oleh pemain baru ini. Sebenarnya siapapun itu, entah etnis atau agama tertentu seharusnya memang tidak menggunakan kekerasan dalam setiap aksinya. Ini yang harus disepakati oleh semua pihak di Singkawang. Tidak susah berdialog – antara semua pihak – untuk menyelesaikan setiap konflik.
Kembali kepada pemerintah Kota Singkawang sebagai pihak yang paling berwenang. Apakah akan melanjutkan sifat dan sikap “memble” sedemikian rupa sehingga membiarkan “api” yang semula kecil kemudian membesar dan akhirnya membakar Singkawang baru bertindak? Atau mungkin Pemkot sedang kebingungan bagaimana menjadikan Singkawang menjadi Spektakuler, sehingga secara asal dan untuk kepentingan pragmatis semata melupakan budaya dan kesakralannya? Kalau memang mau “menjual” kesakralan salah satu budaya tertentu untuk tujuan wisata, tidak lantas mengabaikan aturan, prosesi, dan ritual dari budaya itu. Sebaliknya bahkan prosesi dan ritual itulah tempat nilai jual budaya tersebut. Saya yakin Pemkot pasti sudah banyak belajar dari Bali ataupun Yogya – kalau belum seharusnya segera – bagaimana mengemas sesuatu yang sakral menjadi aset wisata yang sangat menguntungkan. Bali merepresentasikan religiusitas penduduknya yang mayoritas Hindu, sedang Yogya mampu menjual model “keIslaman” rakyatnya sehingga tidak terbilang wisatawan domestik maupun manca tanpa bosan mendatangi dua tempat ini. Bali dan Yogya memang sangat berbeda dengan Singkawang. Historisnya, penduduknya, nuansanya, semuanya berbeda. Kenapa tidak mulai dari yang kecil atau sesuatu yang sudah umum namun identik dengan Singkawang? Yogya salah satunya hanya mengandalkan pohon beringin – yang disakralkan – untuk mengundang wisatawan setiap malam berkungjung ke salah satu sudut Kota Yogya tersebut.
Bagaimana dengan Singkawang? Memang tidak mudah dan tentu saja memerlukan waktu, namun tidak salah untuk mulai sekarang berusaha mewujudkannya. Dan Pemkot sebaiknya legawa dan tidak arogan kepada pihak-pihak yang tulus berbuat untuk Singkawang, bukan pihak yang hanya mencari sensasi dan publisitas semata, dan ternyata memicu konflik.
Minggu, 21 Desember 2008
murid2ku,anak2 pengungi semelagi hulu
mandi air di kala banjir
banjir bagi sebagian orang adalah sangat menyusahkan.namun, unikny bagi sebagian besar penduduk singkawang,banjir menjadi berkah tersendiri meskipun banjir membawa kerugian juga.berkah tersebut adalah mereka bisa berenang dan bebas mandi air sepuasnya di tengah air banjir yang keruh.tidak hanya orang tionghoa,etnis lainnya pun demikian.mungkin mikirnya karena kelangkaan kolam renang di singkawang so kenapa tidak memanfaatkan bencana alam untuk bersenang-senang?di tengah bencana,tidak ada salahnya untuk tetap have fun,sapa tahu dapat jodoh juga kan?loh?!
Kelurahan Semelagi Kecil di Singkawang Utara
Senin, 03 November 2008
Jumat, 31 Oktober 2008
Amoy Warung Kopi Singkawang
Amoy (Warung Kopi) Singkawang: Bukan Perempuan Biasa
Singkawang sangat familiar dan terkenal dengan julukan “Kota Amoy”. Hongkongnya Indonesia ini menyimpan mutiara-mutiara oriental yang sungguh menakjubkan. Tidak di rumah semata, tidak pula sebatas pagi hari, atau hanya sesosok putri anggun menawan, lebih dari itu untuk menggambarkan Amoy Singkawang. Kita bisa temukan di jalan-jalan raya Singkawang manapun, bahkan di sudut-sudut gang yang banyak membelah Singkawang. Semaraknya kehidupan malam Singkawang menjadi dunia sendiri bagi (sebagian) Amoy. Mereka pun menjadi kupu-kupu malam yang berkeliaran di belahan bumi seribu kuil ini.Kupu-kupu oriental itu semakin tampak menawan di antara kumbang-kumbang malam warung kopi Singkawang. Keindahan dan eksotika pesona mereka membuat semarak malam-malam kelam kota Singkawang. Balutan busana modist nan sexy menyelimuti tubuh molek tersebut, menyajikan sensasi tersendiri di warung kopi. Kumbang-kumbang itu semakin betah dan tiada bosan apalagi sesekali sang kupu tanpa sungkan dan malu berada diantara mereka. Sang kupu melayani keperluan mereka, meracik minuman dan makanan, sekaligus mengantarkan untuk mereka, tak jarang pula menuangkan minuman hanya untuk kepentingan mereka. Tangan-tangan putih dan halus itu begitu indah namun gesit menyulap segala macam minuman dan makanan untuk dikonsumsi sang kumbang. Lenggang halus serta gerak tubuh yang gemulai dan sesekali mengeluarkan suara dari sebentuk mulut kecil berbibir tipis sang kupu menambah mabuk sang kumbang.
Memang tidak lama sang kupu itu hinggap di tempat istirahat sang kumbang karena kumbang-kumbang lain pun pergi dan menjelang begitu rupa. Tentu saja sang kupu harus sigap terbang dan mengepakkan sayapnya ke kumbang-kumbang lainnya. Sang kupu memang dituntut untuk berganti rupa dan keindahan untuk setiap kumbang yang berbeda-beda. Dia harus menyenangkan hati semua kumbang yang mempunyai rupa serta corak yang juga beragam itu.
Tersubordinasi secara Kultural
Seorang amoy tiba-tiba berdiri menanggapi pertanyaan saya kepada para pembicara pada salah sebuah pertemuan guru swasta bahasa Mandarin beberapa waktu lampau di SMP-SMA Barito. Saat itu saya ingin mengetahui bagaimana tanggapan para pembicara – pembicara utamanya adalah seorang Professor dari Tiongkok – mengenai image Singkawang sebagai Kota amoy, image amoy yang negatif, yang terus terang saya telan mentah-mentah sebagai bekal saya ketika mendatangi Singkawang. Dia tidak sepenuhnya menolak hal tersebut, bahkan secara tidak langsung memberikan “pengakuan” berharga kepada saya bahwa sesungguhnya kondisi amoy Singkawang terutama di daerah sekitar tempat tinggalnya – Kaliasin – sangat memprihatinkan. Kemiskinan ekonomi disebutnya sebagai faktor utama, apalagi
Kupu-kupu malam ini menjadi image sentral kota Singkawang yang sangat kental dengan keindahan sosok mereka. Sosok mereka sudah sejak ratusan tahun lalu digambarkan oleh George Windsor Earl (Mooridjan, terj. 2003) sebagai perempuan yang an ciang dengan kaki-kaki yang selalu tetap terpelihara bersih, betis yang indah dan tentu saja dengan sifatnya yang ramah dan halus. Personifikasi perempuan Tionghoa ini sangat kontras dengan laki-lakinya yang terkesan kasar, seram, dan kurang bersahabat terutama terhadap pihak-pihak yang belum dikenalnya.
Keberadaan Amoy Singkawang di warung kopi (warkop) dewasa ini, sungguh patut menjadi rujukan penghargaan seorang Earl terhadap perempuan Tionghoa yang ditemuinya dalam perjalanan menuju Montrado(k). Amoy ini rata-rata berumur belasan hingga duapuluhan tahun, dan sudah terjun ke “dunia malam” untuk bekerja. Mereka memang ada yang sudah tidak sekolah, namun tidak sedikit pula yang masih sekolah. Mereka yang benar-benar kerja – dari sejak petang sekitar pukul 18.00 hingga dinihari sekitar pukul 02.00 – dan masih berstatus sebagai siswi sekolah mempunyai trik tersendiri untuk mengatur waktu mereka. Strategi (manajemen waktu) – tidak lepas dari peran seorang ibu – biasanya menempatkan jam sekolah mereka pada siang hari hingga sore. Pagi (dini) hari setelah tutup warkop mereka manfaatkan untuk istirahat beberapa jam. Karena mereka juga “harus” bangun pagi untuk membantu orang tua (ibu) melakukan pekerjaan rumah seperti membersihkan rumah, pergi ke pasar, masak, ataupun merawat adik-adik mereka yang masih kecil.
Rutinitas yang dilakoni Amoy ini menegaskan sebuah peran rangkap tiga (triple role) perempuan dalam masyarakat. Peran domestik – yang selalu dialamatkan kepada perempuan – terlihat dari pekerjaan rumah yang tidak bisa mereka lalaikan. Sedang peran publik – sebaliknya selalu diakui oleh laki-laki – pun mereka jalani dengan bekerja semalam suntuk di warung kopi. Meskipun dua peran itu sudah mereka lakoni, perempuan (Amoy) ini masih diposisikan subordinat secara budaya dalam masyarakat (Tionghoa) yang masih patriarkat. Bagaimana dengan laki-laki (Tionghoa) di pihak lain? Tentu saja sangat kontras dengan peran Amoy, mereka hanya bergelut pada pentas publik dan hal tersebut terlegitimasi secara budaya. Salah satu budaya yang dimaksud ini adalah nilai-nilai ajaran Konfusian. Pratiwi (1995: 223) mengungkapkan bahwa ajaran Konfusian ini menempatkan laki-laki mempunyai hak yang lebih tinggi dari perempuan, peran perempuan dan identitas yang dimiliki oleh mereka didefinisikan dari laki-laki atau suami mereka. Dalam falsafah kosmologi Yin dan Yang ajaran Konfusian – Yin adalah representasi perempuan sedang Yang merepresentaskan laki-laki – inferioritas yang dialami perempuan dilihat sebagai bagian dari hukum alam atau praktik-praktik sosial yang konsisten dengan kepercayaan itu.
Sangat jarang perempuan seperti Amoy Singkawang. Faktor ekonomi bukan menjadi rahasia umum lagi untuk mengulik alasan Amoy menjalankan peran mereka tersebut. Namun terdapat satu hal lain yang setidaknya – lagi-lagi secara kultural – entah itu disadari atau tidak menempatkan mereka pada posisi sedemikian rupa. Hal tersebut tidak lain adalah “hao” atau tindakan bakti seorang anak terhadap orang tua dalam keluarga Tionghoa, yang mana disebut juga sebagai filial piety. Mengatasnamakan “hao” inilah maka terjadi inferioritas terhadap perempuan (Amoy) dalam keluarga Tionghoa.
Nilai-nilai budaya ini setidaknya menimbulkan apa yang disebut sebagai “kepatuhan sosial” perempuan terhadap orang tua dan laki-laki. Orang tua dan termasuk juga laki-laki Tionghoa melegitimasi kekuasaan mereka atas diri Amoy dalam wujud kepatuhan yang harus selalu ditunjukkan oleh para Amoy tersebut. Kepatuhan-kepatuhan sosial perempuan sebagaimana dialami oleh Amoy Singkawang tidak terlepas dari ideologi nature dan culture atau obyek dan subyek perempuan yang mana perempuan ditempatkan sebagai obyek dalam dunia laki-laki (culture) (Cormack, 1980; Rosaldo, 1983 dalam Abdullah, 2001: 49). Kepatuhan sosial yang dituntut oleh orang tua dan keluarga (laki-laki) kepada Amoy Singkawang merupakan bukti adanya ketimpangan konstruksi gender dalam kehidupan keluarganya.
Permasalahan Amoy: Permasalahan Ketimpangan Gender atau…?
Gender dan permasalahannya tidak terlepas dari wilayah (lokalitas) dan waktu terjadinya. Mengenai hal tersebut, gender (sosial) menurut Ivan Illich (1998: 13) disebut sebagai sebuah dualitas yang pada umumnya bersifat lokal dan terikat waktu, yang berlaku pada laki-laki dan perempuan dengan berbagai keadaan dan kondisi yang mencegah mereka berkata, berbuat, berangan-angan, atau berpikir tentang ‘hal yang sama’. Selanjutnya Ivan Illich (ibid. , hal.45) mengatakan bahwa gender bukan hanya sekedar menyangkut jenis kelamin, namun gender juga mengisyaratkan polaritas sosial yang sifatnya fundamental dan tidak akan sama di berbagai tempat. Gender adalah sesuatu yang memang membedakan (mengidentifikasi) setiap orang sebagai feminin atau maskulin dan permasalahannya berbeda di berbagai tempat. Bagaimana dengan identifikasi gender pada “kasus” Amoy Singkawang?
Heidhues (2003: 38) menyebutkan bahwa peran gender diantara orang-orang Hakka (Khek) Kalimantan Barat sangat sedikit terlihat daripada orang-orang Cina lainnya. Salah satunya mencontohkan betapa perempuan-perempuan Hakka terbiasa untuk bekerja di luar (ladang, sawah) dan lebih independen daripada perempuan-perempuan Cina nonHakka. Dan memang terbukti kalau polarisasi peran gender antara perempuan dan laki-laki Tionghoa tidak begitu kentara terkait dengan fenomena Amoy Singkawang dewasa ini. Sebaliknya peran Amoy sangat signifikan dalam kehidupan keluarga Tionghoa. Mereka menjadi tulang punggung perekonomian keluarga – dengan bekerja di panggung publik sebagaimana laki-laki – tanpa melalaikan kodratnya sebagai perempuan untuk bergelut dalam wilayah domestik rumah tangga.
Sosok Amoy dengan segala peran dan bakti (hao) tidak lantas merubah kehidupannya – dan keluarga – menjadi layak baik secara ekonomi ataupun kultural. Kembali kita heran bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Padahal jerih payah kerja membanting tulang yang ditunjukkan mereka, serta totalitas dalam bakti seharusnya berbuah kepada kesejahteraan kehidupan. Setidaknya dalam penelitian saya, permasalahan urgen-nya adalah pendidikan. Keinginan untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin sangat minim diantara Amoy Singkawang, dan ironisnya tidak sedikit disebabkan oleh orang tua. Porsi terhadap pendidikan diantara Amoy ini, sebut saja (jam) belajar, sangat jauh dibandingkan dengan “tuntutan” ekonomi dan budaya yang harus mereka praktikkan dalam keseharian mereka. Bayangkan saja, bagaimana mereka bisa mempunyai cukup waktu untuk belajar apabila mulai petang sampai dinihari harus bekerja, kemudian pagi hari mereka harus membantu orang tua sampai siang menjelang waktu sekolah mereka. Tidak heran apabila PR (pekerjaan rumah) jarang atau tidak dikerjakan sama sekali.
Dibalik kekaguman saya yang sangat akan Amoy Singkawang, sungguh terdapat rasa miris dan sedih akan kurangnya mereka dalam hal pendidikan. Seharusnya dengan etos kerja yang sangat baik – sebagaimana ditunjukkan oleh para Amoy – dan hao terhadap orang tua (keluarga), apalagi didukung dengan modal pendidikan yang cukup, maka kehidupan keluarga Tionghoa Singkawang akan jauh dari kemiskinan. Sehingga image Amoy Singkawang sebagai “dolar” atau “barang ekspor” untuk laki-laki luar negeri bisa hilang atau lambat laun pasti akan sangat berkurang. Pemerintah, instansi pendidikan, masyarakat dan lembaga yang concern akan permasalahan Tionghoa (Singkawang) selayaknya peka akan hal ini.
Akhriyadi Sofian
Referensi Acuan
Abdullah, Irwan. 2001. Seks, Gender, dan Reproduksi Kekuasaan. Yogyakarta: Tarawang Press.
Earl, George Windsor. 1932. The Eastern Seas (terj. Mooridjan: 2003). America: Oxford University Press.
Heidhues, Mary Somers. 2003. Golddiggers, Farmers, and Traders in the “Chinese District” of West Kalimantan, Indonesia. New York: Cornell University.
Illich, Ivan. 1998. Matinya Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Pratiwi, Restu. “Wanita Pada Masa Tradisional Cina”, dalam Konfusanisme di Indonesia Pergulatan Mencari Jati Diri. 1995. Yogyakarta: Interfidei.
Jumat, 10 Oktober 2008
babi peliharaan di hang mui
Sabtu, 27 September 2008
Musik Tionghoa
salah satu dari pemain musiknya adalah seorang ibu-ibu yang memainkan alat musik petik (sejenis rebab)tapi senarnya cuma dua. kesenian ini masih bisa bertahan meskipun empas-empis di tengah modernisasi - upaya menjadikan singkawang sebagai kota jasa dan wisata - dan memang ironisnya tidak banyak orang muda tionghoa yang apresiatif sama jenis musik daerah singkawang ini. kelompok ini juga hanya mentas - payu - kalau diundang di beberapa acara tertentu seperti ulang tahun pekong dan acara-acara tertentu di singkawang.
Jumat, 19 September 2008
Sejarah Tionghoa Singkawang
Melacak Sejarah (Tionghoa) Singkawang
Singkawang yang disebut sebagai kota seribu kuil, Hongkongnya Indonesia ataupun yang lebih nyentrik lagi diistilahkan sebagai kota amoy, menawarkan sensasi oriental di setiap sudut kotanya. Kentalnya nuansa oriental ini tercermin dari mayoritas penduduknya yang beretnis Tionghoa (Khek/Hakka) dan dalam keseharian bahasa Khek menjadi lingua franca diantara penduduknya, dan tidak sedikit kelompok etnis lain (pribumi) juga menggunakannya.
Suku bangsa – subetnis – Khek/Hakka ini oleh Skinner (1979: 6) disebut sebagai salah satu golongan bahasa (speech group) dari tiga golongan bahasa Tionghoa terbesar yang ada di Indonesia (Hokkian, Hakka, Kanton), merupakan salah satu pemilik “asli” Singkawang. Kepemilikan atas Singkawang ini tidak lepas dari sejarah kedatangan orang Khek itu sendiri di Kalimantan (Borneo). Kedatangan orang-orang Tionghoa ke Nusantara – salah satunya ke Borneo – bisa dilihat dari empat pola migrasi sebagaimana disebutkan oleh Gung Wu (2000: 4-10), yaitu pertama, perdagangan (huashang) yang terdiri dari para saudagar, para pekerja seperti penambang dan pekerja-pekerja terampil yang pergi ke luar negeri dan termasuk juga anggota keluarga mereka sendiri yang bekerja untuk mereka dan kemudian membentuk basis di pelabuhan, penambangan dan di kota-kota perdagangan. Kedua, menjadi kuli (coolie atau Huagong) merupakan migrasi sejumlah besar para pekerja kuli yang biasanya terdiri dari para petani, pekerja yang tidak mempunyai tanah dan para penduduk urban yang miskin. Ketiga, perantauan (Huaqiao) berarti para perantau yang bukan termasuk golongan pedagang dan kuli melainkan para guru, jurnalis, dan golongan-golongan profesional yang pergi ke luar Cina untuk meningkatkan kesadaran akan kebesaran budaya Cina dan untuk tujuan nasionalisme. Dan pola keempat adalah re-migrasi orang-orang Cina atau keturunanya dari negara yang sudah didiami ke negara-negara lain (Huayi). Apabila mengacu pada empat pola tersebut, maka awal keberadaan orang-orang Khek di Borneo setidaknya mewakili pola huagong menjadi kuli (coolie) di berbagai pertambangan emas dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Sambas. Selama gelombang perpindahan yang besar dari tahun 1850 sampai 1930, orang-orang Hakka (Khek) merupakan imigran yang paling melarat dari Tiongkok. Sampai sekarang orang Hakka paling banyak diantara orang Tionghoa di bekas disrik tambang emas di Kalimantan Barat (Skinner, 1981: 7).
Hubungan antara Cina dengan Kalimantan (Borneo) sudah ada sejak abad ke 9 M (Purwanto, 2005: 40). Sedang kedatangan orang-orang Tionghoa ke Kalimantan Barat (Borneo Barat) terjadi pada abad ke 13-14 M (Sikwan&Harni, 2004: 19). Orang-orang Khek ini yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan dan kemajuan Borneo sejak kedatangannya. Disebutkan bahwa ketika kedatangan orang-orang Tionghoa ini, kehidupan masyarakat di Borneo sangat sederhana, karena itu oleh Abdul Rachman I kelompok Tionghoa ini bersama dengan Melayu dan Bugis diminta untuk membangun dan mengembangkan sebuah kota (Setiono, 2008: 191). Tidak dijelaskan secara spesifik dalam tulisan tersebut nama kota yang “diberikan” oleh Penguasa saat itu kepada tiga kelompok etnik di atas.
Menapaktilas Jejak “Republik Lanfong”
Menilik dari berbagai catatan mengenai seorang tokoh berpengaruh yaitu Lo Fong (Pak) yang mana disebut sebagai founding father sebuah Kongsi (Kung sie) terkenal Lanfong, Singkawang sedikit banyak berusaha dikaitkan dengan kongsi Lanfong tersebut. Namun sebenarnya, belum terdapat bukti historis yang objektif mengenai hubungan antara “Republik Lanfong” Lo Fong (Pak) dengan keberadaan Singkawang. Sebut saja tulisan dari Lie Sau Fat (2008: 3) yang menggambarkan heroisme seorang Lo Fong (Pak) ketika pertama kali menginjakkan kakinya di tanah harapan (Kalbar/west Borneo) dengan memimpin sekitar lebih dari seratus laki-laki untuk mengadu nasib dengan mencari pertambangan emas. Akhirnya diceritakan kalau Lo Fong (Pak) dan “pasukannya” menemukan tambang emas di Mandor dan kemudian membentuk Lan Fong Kung Sie. Tulisan Lie Sau Fat tersebut tampaknya mengenyampingkan fakta historis mengenai awal kedatangan orang-orang etnis Tionghoa di Borneo sebagai kelompok kuli kontrak yang dipekerjakan di beberapa daerah pertambangan emas seperti Larah dan Montrado oleh Sultan Sambas Umar Akamuddin (Sikwan&Triastuti, 2004: 19). Saat kedatangannya, Lo Fong (Pak) bersama orang-orang Tionghoa lainnya menjadi pekerja tambang emas, dan selanjutnya membangun “dinastinya” di Mandor.
Sikwan dan Triastuti (2004: 21) menyebut bahwa bertambahnya konsentrasi orang-orang Tionghoa di Singkawang tidak terlepas dari pemberontakan yang dilakukannya terhadap Kesultanan Sambas pada tahun 1760. Setelah konflik tersebut orang-orang Tionghoa yang ada di berbagai daerah pedalaman Kalbar (Kesultanan Sambas) “diusir” ke Singkawang. Hal ini mengindikasikan kalau keberadaan Singkawang sudah ada jauh sebelum terbentuknya Kongsi Lanfong, yang didirikan oleh Lo Fong (Pak) tidak lama setelah mendarat di Borneo pada tahun 1772. Pendirian Kongsi Lanfong ini tidak jarang menggunakan jalan kekerasan untuk menaklukkan kongsi-kongsi lain sehingga bernaung di bawahnya.
Secara khusus dalam salah satu bab dari bukunya yang super tebal, Setiono (2008) menyebut Kongsi Lanfong layaknya sebuah “Republik” yang mengakamodasikan kepentingan dari anggota-anggotanya yang ada di Borneo. Kepengurusannya berdasar atas kaidah-kaidah demokrasi, dengan mengutamakan mufakat dan pemilihan langsung dalam penentuan pemimpin dan kepengurusannya. Wilayah Mandor setelah ditaklukkan oleh Lo Fong (Pak), dijadikan sebagai “pusat” dari Republik Lanfong yang dipimpinnya. Republik Lanfong berdiri secara resmi pada tahun 1777. Selama diperintah oleh (Tai Ko) Lo Fong – Tai Ko adalah sebutan untuk jabatan tertinggi dalam Republik Lanfong yang berarti Kakak Tertua – kekuasaan Republik Lanfong ini meliputi Pontianak, Mempawah dan Landak (Lontaan, 1975: 250).
Bagaimana dengan Singkawang? Di dalam kekuasaan Republik apakah Singkawang? Lontaan (1975: 251) hanya sedikit menyebut bahwa setelah kematian Lo Fong (Pak) pada tahun 1795, terjadi perang antara Taikong Kongsi yang beribukota di Montrado dengan Sam Tiu Kiu Kongsi yang beribukota di Sambas. Adapun sebab dari pertempuran tersebut adalah karena Kongsi Sam Tiu Kiu melakukan penggalian emas di wilayah Sei Raya (Singkawang) yang mana merupakan masuk wilayah kekuasaan Taikong Kongsi Montrado. Dari penuturan tersebut jelas kalau dulunya Singkawang masuk dalam wilayah kekuasaan Republik Taikong yang berpusat di Montrado. Montrado ini lahir dan berkembang jauh lebih dulu daripada Singkawang, apalagi setelah berdirinya Kongsi Taikong (Republik Taikong) tersebut pada tahun 1745. Menyitir dari Liu (2008: 84), tidak salah apabila kemudian orang-orang menyebut bahwa “sebelum ada Singkawang, sudah ada Montrado”.
Singkawang – San Kew Jong – memang sampai sekarang susah dilacak kapan tahun persisnya berdiri. Apabila berdasar atas fakta sejarah terbentuknya kongsi-kongsi awal di wilayah kekuasaan Kesultanan Sambas – salah satunya Kongsi Taikong Montrado yang berdiri tahun 1745 – maka bisa dipastikan kalau Singkawang sudah ada sejak pertengahan abad ke 18. Sebagaimana diakui oleh salah seorang Budayawan senior Singkawang (M.J. Mooridjan) dalam sebuah obrolan sore pada hari Rabu, 3 September 2008 yang lalu, beliau menyatakan bahwa Singkawang dulunya sudah pasti sebuah daerah hinterland, daerah yang berada di luar pusat kekuasaan (Sambas dan Montrado). Namun, meskipun demikian Singkawang ini menjadi salah satu tujuan (transit) dari orang-orang Tionghoa yang menjadi buruh dan kuli pertambangan emas dalam kuasa Kesultanan Sambas. Lambat laun Singkawang ini semakin tumbuh dan berkembang yang tentu saja salah satunya karena peran dominan dari orang-orang Tionghoa.
Tulisan ini dimuat di Pontianak Post, tanggal 9-10 September 2008.
Akhriyadi Sofian
Referensi Acuan
Gung Wu, Wang. 2000. China and The Chinese Overseas. Singapore: Eastern University Press.
Liu, Wu. 2008. Bahasa Hakka di Singkawang. Jakarta: Buletin Permasis Tahun ke 2 Maret-April
Lontaan, J. U. 1975. Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat. Jakarta: Bumi Restu.
Purwanto, Hari. 2005. Orang Cina Khek dari Singkawang. Depok: Komunitas Bambu.
Setiono, Benny G. 2008. Tionghoa Dalam Pusaran Politik. Mengungkap Fakta Sejarah Tersembunyi Orang Tionghoa di Indonesia. Jakarta: Transmedia.
Sikwan, Agus & Triastuti, Maria Rosarie Harni. 2004. Tragedi Perdagangan Amoy Singkawang. Yogyakarta: PSKK UGM – Ford Foundation.
Skinner, William G. 1981. Golongan Minoritas Tionghoa. Dalam Mely G. Tan (ed.). Golongan Etnis Tionghoa di Indonesia Suatu Masalah Pembinaan Kesatuan Bangsa. Jakarta: Gramedia.
Suku bangsa – subetnis – Khek/Hakka ini oleh Skinner (1979: 6) disebut sebagai salah satu golongan bahasa (speech group) dari tiga golongan bahasa Tionghoa terbesar yang ada di Indonesia (Hokkian, Hakka, Kanton), merupakan salah satu pemilik “asli” Singkawang. Kepemilikan atas Singkawang ini tidak lepas dari sejarah kedatangan orang Khek itu sendiri di Kalimantan (Borneo). Kedatangan orang-orang Tionghoa ke Nusantara – salah satunya ke Borneo – bisa dilihat dari empat pola migrasi sebagaimana disebutkan oleh Gung Wu (2000: 4-10), yaitu pertama, perdagangan (huashang) yang terdiri dari para saudagar, para pekerja seperti penambang dan pekerja-pekerja terampil yang pergi ke luar negeri dan termasuk juga anggota keluarga mereka sendiri yang bekerja untuk mereka dan kemudian membentuk basis di pelabuhan, penambangan dan di kota-kota perdagangan. Kedua, menjadi kuli (coolie atau Huagong) merupakan migrasi sejumlah besar para pekerja kuli yang biasanya terdiri dari para petani, pekerja yang tidak mempunyai tanah dan para penduduk urban yang miskin. Ketiga, perantauan (Huaqiao) berarti para perantau yang bukan termasuk golongan pedagang dan kuli melainkan para guru, jurnalis, dan golongan-golongan profesional yang pergi ke luar Cina untuk meningkatkan kesadaran akan kebesaran budaya Cina dan untuk tujuan nasionalisme. Dan pola keempat adalah re-migrasi orang-orang Cina atau keturunanya dari negara yang sudah didiami ke negara-negara lain (Huayi). Apabila mengacu pada empat pola tersebut, maka awal keberadaan orang-orang Khek di Borneo setidaknya mewakili pola huagong menjadi kuli (coolie) di berbagai pertambangan emas dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Sambas. Selama gelombang perpindahan yang besar dari tahun 1850 sampai 1930, orang-orang Hakka (Khek) merupakan imigran yang paling melarat dari Tiongkok. Sampai sekarang orang Hakka paling banyak diantara orang Tionghoa di bekas disrik tambang emas di Kalimantan Barat (Skinner, 1981: 7).
Hubungan antara Cina dengan Kalimantan (Borneo) sudah ada sejak abad ke 9 M (Purwanto, 2005: 40). Sedang kedatangan orang-orang Tionghoa ke Kalimantan Barat (Borneo Barat) terjadi pada abad ke 13-14 M (Sikwan&Harni, 2004: 19). Orang-orang Khek ini yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan dan kemajuan Borneo sejak kedatangannya. Disebutkan bahwa ketika kedatangan orang-orang Tionghoa ini, kehidupan masyarakat di Borneo sangat sederhana, karena itu oleh Abdul Rachman I kelompok Tionghoa ini bersama dengan Melayu dan Bugis diminta untuk membangun dan mengembangkan sebuah kota (Setiono, 2008: 191). Tidak dijelaskan secara spesifik dalam tulisan tersebut nama kota yang “diberikan” oleh Penguasa saat itu kepada tiga kelompok etnik di atas.
Menapaktilas Jejak “Republik Lanfong”
Menilik dari berbagai catatan mengenai seorang tokoh berpengaruh yaitu Lo Fong (Pak) yang mana disebut sebagai founding father sebuah Kongsi (Kung sie) terkenal Lanfong, Singkawang sedikit banyak berusaha dikaitkan dengan kongsi Lanfong tersebut. Namun sebenarnya, belum terdapat bukti historis yang objektif mengenai hubungan antara “Republik Lanfong” Lo Fong (Pak) dengan keberadaan Singkawang. Sebut saja tulisan dari Lie Sau Fat (2008: 3) yang menggambarkan heroisme seorang Lo Fong (Pak) ketika pertama kali menginjakkan kakinya di tanah harapan (Kalbar/west Borneo) dengan memimpin sekitar lebih dari seratus laki-laki untuk mengadu nasib dengan mencari pertambangan emas. Akhirnya diceritakan kalau Lo Fong (Pak) dan “pasukannya” menemukan tambang emas di Mandor dan kemudian membentuk Lan Fong Kung Sie. Tulisan Lie Sau Fat tersebut tampaknya mengenyampingkan fakta historis mengenai awal kedatangan orang-orang etnis Tionghoa di Borneo sebagai kelompok kuli kontrak yang dipekerjakan di beberapa daerah pertambangan emas seperti Larah dan Montrado oleh Sultan Sambas Umar Akamuddin (Sikwan&Triastuti, 2004: 19). Saat kedatangannya, Lo Fong (Pak) bersama orang-orang Tionghoa lainnya menjadi pekerja tambang emas, dan selanjutnya membangun “dinastinya” di Mandor.
Sikwan dan Triastuti (2004: 21) menyebut bahwa bertambahnya konsentrasi orang-orang Tionghoa di Singkawang tidak terlepas dari pemberontakan yang dilakukannya terhadap Kesultanan Sambas pada tahun 1760. Setelah konflik tersebut orang-orang Tionghoa yang ada di berbagai daerah pedalaman Kalbar (Kesultanan Sambas) “diusir” ke Singkawang. Hal ini mengindikasikan kalau keberadaan Singkawang sudah ada jauh sebelum terbentuknya Kongsi Lanfong, yang didirikan oleh Lo Fong (Pak) tidak lama setelah mendarat di Borneo pada tahun 1772. Pendirian Kongsi Lanfong ini tidak jarang menggunakan jalan kekerasan untuk menaklukkan kongsi-kongsi lain sehingga bernaung di bawahnya.
Secara khusus dalam salah satu bab dari bukunya yang super tebal, Setiono (2008) menyebut Kongsi Lanfong layaknya sebuah “Republik” yang mengakamodasikan kepentingan dari anggota-anggotanya yang ada di Borneo. Kepengurusannya berdasar atas kaidah-kaidah demokrasi, dengan mengutamakan mufakat dan pemilihan langsung dalam penentuan pemimpin dan kepengurusannya. Wilayah Mandor setelah ditaklukkan oleh Lo Fong (Pak), dijadikan sebagai “pusat” dari Republik Lanfong yang dipimpinnya. Republik Lanfong berdiri secara resmi pada tahun 1777. Selama diperintah oleh (Tai Ko) Lo Fong – Tai Ko adalah sebutan untuk jabatan tertinggi dalam Republik Lanfong yang berarti Kakak Tertua – kekuasaan Republik Lanfong ini meliputi Pontianak, Mempawah dan Landak (Lontaan, 1975: 250).
Bagaimana dengan Singkawang? Di dalam kekuasaan Republik apakah Singkawang? Lontaan (1975: 251) hanya sedikit menyebut bahwa setelah kematian Lo Fong (Pak) pada tahun 1795, terjadi perang antara Taikong Kongsi yang beribukota di Montrado dengan Sam Tiu Kiu Kongsi yang beribukota di Sambas. Adapun sebab dari pertempuran tersebut adalah karena Kongsi Sam Tiu Kiu melakukan penggalian emas di wilayah Sei Raya (Singkawang) yang mana merupakan masuk wilayah kekuasaan Taikong Kongsi Montrado. Dari penuturan tersebut jelas kalau dulunya Singkawang masuk dalam wilayah kekuasaan Republik Taikong yang berpusat di Montrado. Montrado ini lahir dan berkembang jauh lebih dulu daripada Singkawang, apalagi setelah berdirinya Kongsi Taikong (Republik Taikong) tersebut pada tahun 1745. Menyitir dari Liu (2008: 84), tidak salah apabila kemudian orang-orang menyebut bahwa “sebelum ada Singkawang, sudah ada Montrado”.
Singkawang – San Kew Jong – memang sampai sekarang susah dilacak kapan tahun persisnya berdiri. Apabila berdasar atas fakta sejarah terbentuknya kongsi-kongsi awal di wilayah kekuasaan Kesultanan Sambas – salah satunya Kongsi Taikong Montrado yang berdiri tahun 1745 – maka bisa dipastikan kalau Singkawang sudah ada sejak pertengahan abad ke 18. Sebagaimana diakui oleh salah seorang Budayawan senior Singkawang (M.J. Mooridjan) dalam sebuah obrolan sore pada hari Rabu, 3 September 2008 yang lalu, beliau menyatakan bahwa Singkawang dulunya sudah pasti sebuah daerah hinterland, daerah yang berada di luar pusat kekuasaan (Sambas dan Montrado). Namun, meskipun demikian Singkawang ini menjadi salah satu tujuan (transit) dari orang-orang Tionghoa yang menjadi buruh dan kuli pertambangan emas dalam kuasa Kesultanan Sambas. Lambat laun Singkawang ini semakin tumbuh dan berkembang yang tentu saja salah satunya karena peran dominan dari orang-orang Tionghoa.
Tulisan ini dimuat di Pontianak Post, tanggal 9-10 September 2008.
Akhriyadi Sofian
Referensi Acuan
Gung Wu, Wang. 2000. China and The Chinese Overseas. Singapore: Eastern University Press.
Liu, Wu. 2008. Bahasa Hakka di Singkawang. Jakarta: Buletin Permasis Tahun ke 2 Maret-April
Lontaan, J. U. 1975. Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat. Jakarta: Bumi Restu.
Purwanto, Hari. 2005. Orang Cina Khek dari Singkawang. Depok: Komunitas Bambu.
Setiono, Benny G. 2008. Tionghoa Dalam Pusaran Politik. Mengungkap Fakta Sejarah Tersembunyi Orang Tionghoa di Indonesia. Jakarta: Transmedia.
Sikwan, Agus & Triastuti, Maria Rosarie Harni. 2004. Tragedi Perdagangan Amoy Singkawang. Yogyakarta: PSKK UGM – Ford Foundation.
Skinner, William G. 1981. Golongan Minoritas Tionghoa. Dalam Mely G. Tan (ed.). Golongan Etnis Tionghoa di Indonesia Suatu Masalah Pembinaan Kesatuan Bangsa. Jakarta: Gramedia.
Minggu, 14 September 2008
ulang tahun tatung di singkawang
lihat dan saksikan sendiri prosesi ulang tahun seorang tatung di singkawang.sungguh menarik!
tatung yang sedang 'trance'
terlihat jelas salah satu tatung yang sedang mengalami trance. sementara tatung yang lainnya (menutup kepala dengan kain kuning) sedang menghunus golok dan kemudian menggosok-gosok golok tersebut di beberapa bagian tubuhnya. dua orang tatung dengan tampilan dari prosesi ritual ini menyemarakkan perayaan ulang tahun salah satu tatung yang ada di singkawang. memang peragaan yang mereka tampilkan disebut tidak semeriah dan 'sehebat' yang mereka selalu peragakan ketika Cap Go Meh.
Langganan:
Postingan (Atom)