Senin, 03 November 2008
Jumat, 31 Oktober 2008
Amoy Warung Kopi Singkawang
Amoy (Warung Kopi) Singkawang: Bukan Perempuan Biasa
Singkawang sangat familiar dan terkenal dengan julukan “Kota Amoy”. Hongkongnya Indonesia ini menyimpan mutiara-mutiara oriental yang sungguh menakjubkan. Tidak di rumah semata, tidak pula sebatas pagi hari, atau hanya sesosok putri anggun menawan, lebih dari itu untuk menggambarkan Amoy Singkawang. Kita bisa temukan di jalan-jalan raya Singkawang manapun, bahkan di sudut-sudut gang yang banyak membelah Singkawang. Semaraknya kehidupan malam Singkawang menjadi dunia sendiri bagi (sebagian) Amoy. Mereka pun menjadi kupu-kupu malam yang berkeliaran di belahan bumi seribu kuil ini.Kupu-kupu oriental itu semakin tampak menawan di antara kumbang-kumbang malam warung kopi Singkawang. Keindahan dan eksotika pesona mereka membuat semarak malam-malam kelam kota Singkawang. Balutan busana modist nan sexy menyelimuti tubuh molek tersebut, menyajikan sensasi tersendiri di warung kopi. Kumbang-kumbang itu semakin betah dan tiada bosan apalagi sesekali sang kupu tanpa sungkan dan malu berada diantara mereka. Sang kupu melayani keperluan mereka, meracik minuman dan makanan, sekaligus mengantarkan untuk mereka, tak jarang pula menuangkan minuman hanya untuk kepentingan mereka. Tangan-tangan putih dan halus itu begitu indah namun gesit menyulap segala macam minuman dan makanan untuk dikonsumsi sang kumbang. Lenggang halus serta gerak tubuh yang gemulai dan sesekali mengeluarkan suara dari sebentuk mulut kecil berbibir tipis sang kupu menambah mabuk sang kumbang.
Memang tidak lama sang kupu itu hinggap di tempat istirahat sang kumbang karena kumbang-kumbang lain pun pergi dan menjelang begitu rupa. Tentu saja sang kupu harus sigap terbang dan mengepakkan sayapnya ke kumbang-kumbang lainnya. Sang kupu memang dituntut untuk berganti rupa dan keindahan untuk setiap kumbang yang berbeda-beda. Dia harus menyenangkan hati semua kumbang yang mempunyai rupa serta corak yang juga beragam itu.
Tersubordinasi secara Kultural
Seorang amoy tiba-tiba berdiri menanggapi pertanyaan saya kepada para pembicara pada salah sebuah pertemuan guru swasta bahasa Mandarin beberapa waktu lampau di SMP-SMA Barito. Saat itu saya ingin mengetahui bagaimana tanggapan para pembicara – pembicara utamanya adalah seorang Professor dari Tiongkok – mengenai image Singkawang sebagai Kota amoy, image amoy yang negatif, yang terus terang saya telan mentah-mentah sebagai bekal saya ketika mendatangi Singkawang. Dia tidak sepenuhnya menolak hal tersebut, bahkan secara tidak langsung memberikan “pengakuan” berharga kepada saya bahwa sesungguhnya kondisi amoy Singkawang terutama di daerah sekitar tempat tinggalnya – Kaliasin – sangat memprihatinkan. Kemiskinan ekonomi disebutnya sebagai faktor utama, apalagi
Kupu-kupu malam ini menjadi image sentral kota Singkawang yang sangat kental dengan keindahan sosok mereka. Sosok mereka sudah sejak ratusan tahun lalu digambarkan oleh George Windsor Earl (Mooridjan, terj. 2003) sebagai perempuan yang an ciang dengan kaki-kaki yang selalu tetap terpelihara bersih, betis yang indah dan tentu saja dengan sifatnya yang ramah dan halus. Personifikasi perempuan Tionghoa ini sangat kontras dengan laki-lakinya yang terkesan kasar, seram, dan kurang bersahabat terutama terhadap pihak-pihak yang belum dikenalnya.
Keberadaan Amoy Singkawang di warung kopi (warkop) dewasa ini, sungguh patut menjadi rujukan penghargaan seorang Earl terhadap perempuan Tionghoa yang ditemuinya dalam perjalanan menuju Montrado(k). Amoy ini rata-rata berumur belasan hingga duapuluhan tahun, dan sudah terjun ke “dunia malam” untuk bekerja. Mereka memang ada yang sudah tidak sekolah, namun tidak sedikit pula yang masih sekolah. Mereka yang benar-benar kerja – dari sejak petang sekitar pukul 18.00 hingga dinihari sekitar pukul 02.00 – dan masih berstatus sebagai siswi sekolah mempunyai trik tersendiri untuk mengatur waktu mereka. Strategi (manajemen waktu) – tidak lepas dari peran seorang ibu – biasanya menempatkan jam sekolah mereka pada siang hari hingga sore. Pagi (dini) hari setelah tutup warkop mereka manfaatkan untuk istirahat beberapa jam. Karena mereka juga “harus” bangun pagi untuk membantu orang tua (ibu) melakukan pekerjaan rumah seperti membersihkan rumah, pergi ke pasar, masak, ataupun merawat adik-adik mereka yang masih kecil.
Rutinitas yang dilakoni Amoy ini menegaskan sebuah peran rangkap tiga (triple role) perempuan dalam masyarakat. Peran domestik – yang selalu dialamatkan kepada perempuan – terlihat dari pekerjaan rumah yang tidak bisa mereka lalaikan. Sedang peran publik – sebaliknya selalu diakui oleh laki-laki – pun mereka jalani dengan bekerja semalam suntuk di warung kopi. Meskipun dua peran itu sudah mereka lakoni, perempuan (Amoy) ini masih diposisikan subordinat secara budaya dalam masyarakat (Tionghoa) yang masih patriarkat. Bagaimana dengan laki-laki (Tionghoa) di pihak lain? Tentu saja sangat kontras dengan peran Amoy, mereka hanya bergelut pada pentas publik dan hal tersebut terlegitimasi secara budaya. Salah satu budaya yang dimaksud ini adalah nilai-nilai ajaran Konfusian. Pratiwi (1995: 223) mengungkapkan bahwa ajaran Konfusian ini menempatkan laki-laki mempunyai hak yang lebih tinggi dari perempuan, peran perempuan dan identitas yang dimiliki oleh mereka didefinisikan dari laki-laki atau suami mereka. Dalam falsafah kosmologi Yin dan Yang ajaran Konfusian – Yin adalah representasi perempuan sedang Yang merepresentaskan laki-laki – inferioritas yang dialami perempuan dilihat sebagai bagian dari hukum alam atau praktik-praktik sosial yang konsisten dengan kepercayaan itu.
Sangat jarang perempuan seperti Amoy Singkawang. Faktor ekonomi bukan menjadi rahasia umum lagi untuk mengulik alasan Amoy menjalankan peran mereka tersebut. Namun terdapat satu hal lain yang setidaknya – lagi-lagi secara kultural – entah itu disadari atau tidak menempatkan mereka pada posisi sedemikian rupa. Hal tersebut tidak lain adalah “hao” atau tindakan bakti seorang anak terhadap orang tua dalam keluarga Tionghoa, yang mana disebut juga sebagai filial piety. Mengatasnamakan “hao” inilah maka terjadi inferioritas terhadap perempuan (Amoy) dalam keluarga Tionghoa.
Nilai-nilai budaya ini setidaknya menimbulkan apa yang disebut sebagai “kepatuhan sosial” perempuan terhadap orang tua dan laki-laki. Orang tua dan termasuk juga laki-laki Tionghoa melegitimasi kekuasaan mereka atas diri Amoy dalam wujud kepatuhan yang harus selalu ditunjukkan oleh para Amoy tersebut. Kepatuhan-kepatuhan sosial perempuan sebagaimana dialami oleh Amoy Singkawang tidak terlepas dari ideologi nature dan culture atau obyek dan subyek perempuan yang mana perempuan ditempatkan sebagai obyek dalam dunia laki-laki (culture) (Cormack, 1980; Rosaldo, 1983 dalam Abdullah, 2001: 49). Kepatuhan sosial yang dituntut oleh orang tua dan keluarga (laki-laki) kepada Amoy Singkawang merupakan bukti adanya ketimpangan konstruksi gender dalam kehidupan keluarganya.
Permasalahan Amoy: Permasalahan Ketimpangan Gender atau…?
Gender dan permasalahannya tidak terlepas dari wilayah (lokalitas) dan waktu terjadinya. Mengenai hal tersebut, gender (sosial) menurut Ivan Illich (1998: 13) disebut sebagai sebuah dualitas yang pada umumnya bersifat lokal dan terikat waktu, yang berlaku pada laki-laki dan perempuan dengan berbagai keadaan dan kondisi yang mencegah mereka berkata, berbuat, berangan-angan, atau berpikir tentang ‘hal yang sama’. Selanjutnya Ivan Illich (ibid. , hal.45) mengatakan bahwa gender bukan hanya sekedar menyangkut jenis kelamin, namun gender juga mengisyaratkan polaritas sosial yang sifatnya fundamental dan tidak akan sama di berbagai tempat. Gender adalah sesuatu yang memang membedakan (mengidentifikasi) setiap orang sebagai feminin atau maskulin dan permasalahannya berbeda di berbagai tempat. Bagaimana dengan identifikasi gender pada “kasus” Amoy Singkawang?
Heidhues (2003: 38) menyebutkan bahwa peran gender diantara orang-orang Hakka (Khek) Kalimantan Barat sangat sedikit terlihat daripada orang-orang Cina lainnya. Salah satunya mencontohkan betapa perempuan-perempuan Hakka terbiasa untuk bekerja di luar (ladang, sawah) dan lebih independen daripada perempuan-perempuan Cina nonHakka. Dan memang terbukti kalau polarisasi peran gender antara perempuan dan laki-laki Tionghoa tidak begitu kentara terkait dengan fenomena Amoy Singkawang dewasa ini. Sebaliknya peran Amoy sangat signifikan dalam kehidupan keluarga Tionghoa. Mereka menjadi tulang punggung perekonomian keluarga – dengan bekerja di panggung publik sebagaimana laki-laki – tanpa melalaikan kodratnya sebagai perempuan untuk bergelut dalam wilayah domestik rumah tangga.
Sosok Amoy dengan segala peran dan bakti (hao) tidak lantas merubah kehidupannya – dan keluarga – menjadi layak baik secara ekonomi ataupun kultural. Kembali kita heran bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Padahal jerih payah kerja membanting tulang yang ditunjukkan mereka, serta totalitas dalam bakti seharusnya berbuah kepada kesejahteraan kehidupan. Setidaknya dalam penelitian saya, permasalahan urgen-nya adalah pendidikan. Keinginan untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin sangat minim diantara Amoy Singkawang, dan ironisnya tidak sedikit disebabkan oleh orang tua. Porsi terhadap pendidikan diantara Amoy ini, sebut saja (jam) belajar, sangat jauh dibandingkan dengan “tuntutan” ekonomi dan budaya yang harus mereka praktikkan dalam keseharian mereka. Bayangkan saja, bagaimana mereka bisa mempunyai cukup waktu untuk belajar apabila mulai petang sampai dinihari harus bekerja, kemudian pagi hari mereka harus membantu orang tua sampai siang menjelang waktu sekolah mereka. Tidak heran apabila PR (pekerjaan rumah) jarang atau tidak dikerjakan sama sekali.
Dibalik kekaguman saya yang sangat akan Amoy Singkawang, sungguh terdapat rasa miris dan sedih akan kurangnya mereka dalam hal pendidikan. Seharusnya dengan etos kerja yang sangat baik – sebagaimana ditunjukkan oleh para Amoy – dan hao terhadap orang tua (keluarga), apalagi didukung dengan modal pendidikan yang cukup, maka kehidupan keluarga Tionghoa Singkawang akan jauh dari kemiskinan. Sehingga image Amoy Singkawang sebagai “dolar” atau “barang ekspor” untuk laki-laki luar negeri bisa hilang atau lambat laun pasti akan sangat berkurang. Pemerintah, instansi pendidikan, masyarakat dan lembaga yang concern akan permasalahan Tionghoa (Singkawang) selayaknya peka akan hal ini.
Akhriyadi Sofian
Referensi Acuan
Abdullah, Irwan. 2001. Seks, Gender, dan Reproduksi Kekuasaan. Yogyakarta: Tarawang Press.
Earl, George Windsor. 1932. The Eastern Seas (terj. Mooridjan: 2003). America: Oxford University Press.
Heidhues, Mary Somers. 2003. Golddiggers, Farmers, and Traders in the “Chinese District” of West Kalimantan, Indonesia. New York: Cornell University.
Illich, Ivan. 1998. Matinya Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Pratiwi, Restu. “Wanita Pada Masa Tradisional Cina”, dalam Konfusanisme di Indonesia Pergulatan Mencari Jati Diri. 1995. Yogyakarta: Interfidei.
Jumat, 10 Oktober 2008
babi peliharaan di hang mui
Sabtu, 27 September 2008
Musik Tionghoa
salah satu dari pemain musiknya adalah seorang ibu-ibu yang memainkan alat musik petik (sejenis rebab)tapi senarnya cuma dua. kesenian ini masih bisa bertahan meskipun empas-empis di tengah modernisasi - upaya menjadikan singkawang sebagai kota jasa dan wisata - dan memang ironisnya tidak banyak orang muda tionghoa yang apresiatif sama jenis musik daerah singkawang ini. kelompok ini juga hanya mentas - payu - kalau diundang di beberapa acara tertentu seperti ulang tahun pekong dan acara-acara tertentu di singkawang.
Jumat, 19 September 2008
Sejarah Tionghoa Singkawang
Melacak Sejarah (Tionghoa) Singkawang
Singkawang yang disebut sebagai kota seribu kuil, Hongkongnya Indonesia ataupun yang lebih nyentrik lagi diistilahkan sebagai kota amoy, menawarkan sensasi oriental di setiap sudut kotanya. Kentalnya nuansa oriental ini tercermin dari mayoritas penduduknya yang beretnis Tionghoa (Khek/Hakka) dan dalam keseharian bahasa Khek menjadi lingua franca diantara penduduknya, dan tidak sedikit kelompok etnis lain (pribumi) juga menggunakannya.
Suku bangsa – subetnis – Khek/Hakka ini oleh Skinner (1979: 6) disebut sebagai salah satu golongan bahasa (speech group) dari tiga golongan bahasa Tionghoa terbesar yang ada di Indonesia (Hokkian, Hakka, Kanton), merupakan salah satu pemilik “asli” Singkawang. Kepemilikan atas Singkawang ini tidak lepas dari sejarah kedatangan orang Khek itu sendiri di Kalimantan (Borneo). Kedatangan orang-orang Tionghoa ke Nusantara – salah satunya ke Borneo – bisa dilihat dari empat pola migrasi sebagaimana disebutkan oleh Gung Wu (2000: 4-10), yaitu pertama, perdagangan (huashang) yang terdiri dari para saudagar, para pekerja seperti penambang dan pekerja-pekerja terampil yang pergi ke luar negeri dan termasuk juga anggota keluarga mereka sendiri yang bekerja untuk mereka dan kemudian membentuk basis di pelabuhan, penambangan dan di kota-kota perdagangan. Kedua, menjadi kuli (coolie atau Huagong) merupakan migrasi sejumlah besar para pekerja kuli yang biasanya terdiri dari para petani, pekerja yang tidak mempunyai tanah dan para penduduk urban yang miskin. Ketiga, perantauan (Huaqiao) berarti para perantau yang bukan termasuk golongan pedagang dan kuli melainkan para guru, jurnalis, dan golongan-golongan profesional yang pergi ke luar Cina untuk meningkatkan kesadaran akan kebesaran budaya Cina dan untuk tujuan nasionalisme. Dan pola keempat adalah re-migrasi orang-orang Cina atau keturunanya dari negara yang sudah didiami ke negara-negara lain (Huayi). Apabila mengacu pada empat pola tersebut, maka awal keberadaan orang-orang Khek di Borneo setidaknya mewakili pola huagong menjadi kuli (coolie) di berbagai pertambangan emas dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Sambas. Selama gelombang perpindahan yang besar dari tahun 1850 sampai 1930, orang-orang Hakka (Khek) merupakan imigran yang paling melarat dari Tiongkok. Sampai sekarang orang Hakka paling banyak diantara orang Tionghoa di bekas disrik tambang emas di Kalimantan Barat (Skinner, 1981: 7).
Hubungan antara Cina dengan Kalimantan (Borneo) sudah ada sejak abad ke 9 M (Purwanto, 2005: 40). Sedang kedatangan orang-orang Tionghoa ke Kalimantan Barat (Borneo Barat) terjadi pada abad ke 13-14 M (Sikwan&Harni, 2004: 19). Orang-orang Khek ini yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan dan kemajuan Borneo sejak kedatangannya. Disebutkan bahwa ketika kedatangan orang-orang Tionghoa ini, kehidupan masyarakat di Borneo sangat sederhana, karena itu oleh Abdul Rachman I kelompok Tionghoa ini bersama dengan Melayu dan Bugis diminta untuk membangun dan mengembangkan sebuah kota (Setiono, 2008: 191). Tidak dijelaskan secara spesifik dalam tulisan tersebut nama kota yang “diberikan” oleh Penguasa saat itu kepada tiga kelompok etnik di atas.
Menapaktilas Jejak “Republik Lanfong”
Menilik dari berbagai catatan mengenai seorang tokoh berpengaruh yaitu Lo Fong (Pak) yang mana disebut sebagai founding father sebuah Kongsi (Kung sie) terkenal Lanfong, Singkawang sedikit banyak berusaha dikaitkan dengan kongsi Lanfong tersebut. Namun sebenarnya, belum terdapat bukti historis yang objektif mengenai hubungan antara “Republik Lanfong” Lo Fong (Pak) dengan keberadaan Singkawang. Sebut saja tulisan dari Lie Sau Fat (2008: 3) yang menggambarkan heroisme seorang Lo Fong (Pak) ketika pertama kali menginjakkan kakinya di tanah harapan (Kalbar/west Borneo) dengan memimpin sekitar lebih dari seratus laki-laki untuk mengadu nasib dengan mencari pertambangan emas. Akhirnya diceritakan kalau Lo Fong (Pak) dan “pasukannya” menemukan tambang emas di Mandor dan kemudian membentuk Lan Fong Kung Sie. Tulisan Lie Sau Fat tersebut tampaknya mengenyampingkan fakta historis mengenai awal kedatangan orang-orang etnis Tionghoa di Borneo sebagai kelompok kuli kontrak yang dipekerjakan di beberapa daerah pertambangan emas seperti Larah dan Montrado oleh Sultan Sambas Umar Akamuddin (Sikwan&Triastuti, 2004: 19). Saat kedatangannya, Lo Fong (Pak) bersama orang-orang Tionghoa lainnya menjadi pekerja tambang emas, dan selanjutnya membangun “dinastinya” di Mandor.
Sikwan dan Triastuti (2004: 21) menyebut bahwa bertambahnya konsentrasi orang-orang Tionghoa di Singkawang tidak terlepas dari pemberontakan yang dilakukannya terhadap Kesultanan Sambas pada tahun 1760. Setelah konflik tersebut orang-orang Tionghoa yang ada di berbagai daerah pedalaman Kalbar (Kesultanan Sambas) “diusir” ke Singkawang. Hal ini mengindikasikan kalau keberadaan Singkawang sudah ada jauh sebelum terbentuknya Kongsi Lanfong, yang didirikan oleh Lo Fong (Pak) tidak lama setelah mendarat di Borneo pada tahun 1772. Pendirian Kongsi Lanfong ini tidak jarang menggunakan jalan kekerasan untuk menaklukkan kongsi-kongsi lain sehingga bernaung di bawahnya.
Secara khusus dalam salah satu bab dari bukunya yang super tebal, Setiono (2008) menyebut Kongsi Lanfong layaknya sebuah “Republik” yang mengakamodasikan kepentingan dari anggota-anggotanya yang ada di Borneo. Kepengurusannya berdasar atas kaidah-kaidah demokrasi, dengan mengutamakan mufakat dan pemilihan langsung dalam penentuan pemimpin dan kepengurusannya. Wilayah Mandor setelah ditaklukkan oleh Lo Fong (Pak), dijadikan sebagai “pusat” dari Republik Lanfong yang dipimpinnya. Republik Lanfong berdiri secara resmi pada tahun 1777. Selama diperintah oleh (Tai Ko) Lo Fong – Tai Ko adalah sebutan untuk jabatan tertinggi dalam Republik Lanfong yang berarti Kakak Tertua – kekuasaan Republik Lanfong ini meliputi Pontianak, Mempawah dan Landak (Lontaan, 1975: 250).
Bagaimana dengan Singkawang? Di dalam kekuasaan Republik apakah Singkawang? Lontaan (1975: 251) hanya sedikit menyebut bahwa setelah kematian Lo Fong (Pak) pada tahun 1795, terjadi perang antara Taikong Kongsi yang beribukota di Montrado dengan Sam Tiu Kiu Kongsi yang beribukota di Sambas. Adapun sebab dari pertempuran tersebut adalah karena Kongsi Sam Tiu Kiu melakukan penggalian emas di wilayah Sei Raya (Singkawang) yang mana merupakan masuk wilayah kekuasaan Taikong Kongsi Montrado. Dari penuturan tersebut jelas kalau dulunya Singkawang masuk dalam wilayah kekuasaan Republik Taikong yang berpusat di Montrado. Montrado ini lahir dan berkembang jauh lebih dulu daripada Singkawang, apalagi setelah berdirinya Kongsi Taikong (Republik Taikong) tersebut pada tahun 1745. Menyitir dari Liu (2008: 84), tidak salah apabila kemudian orang-orang menyebut bahwa “sebelum ada Singkawang, sudah ada Montrado”.
Singkawang – San Kew Jong – memang sampai sekarang susah dilacak kapan tahun persisnya berdiri. Apabila berdasar atas fakta sejarah terbentuknya kongsi-kongsi awal di wilayah kekuasaan Kesultanan Sambas – salah satunya Kongsi Taikong Montrado yang berdiri tahun 1745 – maka bisa dipastikan kalau Singkawang sudah ada sejak pertengahan abad ke 18. Sebagaimana diakui oleh salah seorang Budayawan senior Singkawang (M.J. Mooridjan) dalam sebuah obrolan sore pada hari Rabu, 3 September 2008 yang lalu, beliau menyatakan bahwa Singkawang dulunya sudah pasti sebuah daerah hinterland, daerah yang berada di luar pusat kekuasaan (Sambas dan Montrado). Namun, meskipun demikian Singkawang ini menjadi salah satu tujuan (transit) dari orang-orang Tionghoa yang menjadi buruh dan kuli pertambangan emas dalam kuasa Kesultanan Sambas. Lambat laun Singkawang ini semakin tumbuh dan berkembang yang tentu saja salah satunya karena peran dominan dari orang-orang Tionghoa.
Tulisan ini dimuat di Pontianak Post, tanggal 9-10 September 2008.
Akhriyadi Sofian
Referensi Acuan
Gung Wu, Wang. 2000. China and The Chinese Overseas. Singapore: Eastern University Press.
Liu, Wu. 2008. Bahasa Hakka di Singkawang. Jakarta: Buletin Permasis Tahun ke 2 Maret-April
Lontaan, J. U. 1975. Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat. Jakarta: Bumi Restu.
Purwanto, Hari. 2005. Orang Cina Khek dari Singkawang. Depok: Komunitas Bambu.
Setiono, Benny G. 2008. Tionghoa Dalam Pusaran Politik. Mengungkap Fakta Sejarah Tersembunyi Orang Tionghoa di Indonesia. Jakarta: Transmedia.
Sikwan, Agus & Triastuti, Maria Rosarie Harni. 2004. Tragedi Perdagangan Amoy Singkawang. Yogyakarta: PSKK UGM – Ford Foundation.
Skinner, William G. 1981. Golongan Minoritas Tionghoa. Dalam Mely G. Tan (ed.). Golongan Etnis Tionghoa di Indonesia Suatu Masalah Pembinaan Kesatuan Bangsa. Jakarta: Gramedia.
Suku bangsa – subetnis – Khek/Hakka ini oleh Skinner (1979: 6) disebut sebagai salah satu golongan bahasa (speech group) dari tiga golongan bahasa Tionghoa terbesar yang ada di Indonesia (Hokkian, Hakka, Kanton), merupakan salah satu pemilik “asli” Singkawang. Kepemilikan atas Singkawang ini tidak lepas dari sejarah kedatangan orang Khek itu sendiri di Kalimantan (Borneo). Kedatangan orang-orang Tionghoa ke Nusantara – salah satunya ke Borneo – bisa dilihat dari empat pola migrasi sebagaimana disebutkan oleh Gung Wu (2000: 4-10), yaitu pertama, perdagangan (huashang) yang terdiri dari para saudagar, para pekerja seperti penambang dan pekerja-pekerja terampil yang pergi ke luar negeri dan termasuk juga anggota keluarga mereka sendiri yang bekerja untuk mereka dan kemudian membentuk basis di pelabuhan, penambangan dan di kota-kota perdagangan. Kedua, menjadi kuli (coolie atau Huagong) merupakan migrasi sejumlah besar para pekerja kuli yang biasanya terdiri dari para petani, pekerja yang tidak mempunyai tanah dan para penduduk urban yang miskin. Ketiga, perantauan (Huaqiao) berarti para perantau yang bukan termasuk golongan pedagang dan kuli melainkan para guru, jurnalis, dan golongan-golongan profesional yang pergi ke luar Cina untuk meningkatkan kesadaran akan kebesaran budaya Cina dan untuk tujuan nasionalisme. Dan pola keempat adalah re-migrasi orang-orang Cina atau keturunanya dari negara yang sudah didiami ke negara-negara lain (Huayi). Apabila mengacu pada empat pola tersebut, maka awal keberadaan orang-orang Khek di Borneo setidaknya mewakili pola huagong menjadi kuli (coolie) di berbagai pertambangan emas dalam wilayah kekuasaan Kesultanan Sambas. Selama gelombang perpindahan yang besar dari tahun 1850 sampai 1930, orang-orang Hakka (Khek) merupakan imigran yang paling melarat dari Tiongkok. Sampai sekarang orang Hakka paling banyak diantara orang Tionghoa di bekas disrik tambang emas di Kalimantan Barat (Skinner, 1981: 7).
Hubungan antara Cina dengan Kalimantan (Borneo) sudah ada sejak abad ke 9 M (Purwanto, 2005: 40). Sedang kedatangan orang-orang Tionghoa ke Kalimantan Barat (Borneo Barat) terjadi pada abad ke 13-14 M (Sikwan&Harni, 2004: 19). Orang-orang Khek ini yang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan dan kemajuan Borneo sejak kedatangannya. Disebutkan bahwa ketika kedatangan orang-orang Tionghoa ini, kehidupan masyarakat di Borneo sangat sederhana, karena itu oleh Abdul Rachman I kelompok Tionghoa ini bersama dengan Melayu dan Bugis diminta untuk membangun dan mengembangkan sebuah kota (Setiono, 2008: 191). Tidak dijelaskan secara spesifik dalam tulisan tersebut nama kota yang “diberikan” oleh Penguasa saat itu kepada tiga kelompok etnik di atas.
Menapaktilas Jejak “Republik Lanfong”
Menilik dari berbagai catatan mengenai seorang tokoh berpengaruh yaitu Lo Fong (Pak) yang mana disebut sebagai founding father sebuah Kongsi (Kung sie) terkenal Lanfong, Singkawang sedikit banyak berusaha dikaitkan dengan kongsi Lanfong tersebut. Namun sebenarnya, belum terdapat bukti historis yang objektif mengenai hubungan antara “Republik Lanfong” Lo Fong (Pak) dengan keberadaan Singkawang. Sebut saja tulisan dari Lie Sau Fat (2008: 3) yang menggambarkan heroisme seorang Lo Fong (Pak) ketika pertama kali menginjakkan kakinya di tanah harapan (Kalbar/west Borneo) dengan memimpin sekitar lebih dari seratus laki-laki untuk mengadu nasib dengan mencari pertambangan emas. Akhirnya diceritakan kalau Lo Fong (Pak) dan “pasukannya” menemukan tambang emas di Mandor dan kemudian membentuk Lan Fong Kung Sie. Tulisan Lie Sau Fat tersebut tampaknya mengenyampingkan fakta historis mengenai awal kedatangan orang-orang etnis Tionghoa di Borneo sebagai kelompok kuli kontrak yang dipekerjakan di beberapa daerah pertambangan emas seperti Larah dan Montrado oleh Sultan Sambas Umar Akamuddin (Sikwan&Triastuti, 2004: 19). Saat kedatangannya, Lo Fong (Pak) bersama orang-orang Tionghoa lainnya menjadi pekerja tambang emas, dan selanjutnya membangun “dinastinya” di Mandor.
Sikwan dan Triastuti (2004: 21) menyebut bahwa bertambahnya konsentrasi orang-orang Tionghoa di Singkawang tidak terlepas dari pemberontakan yang dilakukannya terhadap Kesultanan Sambas pada tahun 1760. Setelah konflik tersebut orang-orang Tionghoa yang ada di berbagai daerah pedalaman Kalbar (Kesultanan Sambas) “diusir” ke Singkawang. Hal ini mengindikasikan kalau keberadaan Singkawang sudah ada jauh sebelum terbentuknya Kongsi Lanfong, yang didirikan oleh Lo Fong (Pak) tidak lama setelah mendarat di Borneo pada tahun 1772. Pendirian Kongsi Lanfong ini tidak jarang menggunakan jalan kekerasan untuk menaklukkan kongsi-kongsi lain sehingga bernaung di bawahnya.
Secara khusus dalam salah satu bab dari bukunya yang super tebal, Setiono (2008) menyebut Kongsi Lanfong layaknya sebuah “Republik” yang mengakamodasikan kepentingan dari anggota-anggotanya yang ada di Borneo. Kepengurusannya berdasar atas kaidah-kaidah demokrasi, dengan mengutamakan mufakat dan pemilihan langsung dalam penentuan pemimpin dan kepengurusannya. Wilayah Mandor setelah ditaklukkan oleh Lo Fong (Pak), dijadikan sebagai “pusat” dari Republik Lanfong yang dipimpinnya. Republik Lanfong berdiri secara resmi pada tahun 1777. Selama diperintah oleh (Tai Ko) Lo Fong – Tai Ko adalah sebutan untuk jabatan tertinggi dalam Republik Lanfong yang berarti Kakak Tertua – kekuasaan Republik Lanfong ini meliputi Pontianak, Mempawah dan Landak (Lontaan, 1975: 250).
Bagaimana dengan Singkawang? Di dalam kekuasaan Republik apakah Singkawang? Lontaan (1975: 251) hanya sedikit menyebut bahwa setelah kematian Lo Fong (Pak) pada tahun 1795, terjadi perang antara Taikong Kongsi yang beribukota di Montrado dengan Sam Tiu Kiu Kongsi yang beribukota di Sambas. Adapun sebab dari pertempuran tersebut adalah karena Kongsi Sam Tiu Kiu melakukan penggalian emas di wilayah Sei Raya (Singkawang) yang mana merupakan masuk wilayah kekuasaan Taikong Kongsi Montrado. Dari penuturan tersebut jelas kalau dulunya Singkawang masuk dalam wilayah kekuasaan Republik Taikong yang berpusat di Montrado. Montrado ini lahir dan berkembang jauh lebih dulu daripada Singkawang, apalagi setelah berdirinya Kongsi Taikong (Republik Taikong) tersebut pada tahun 1745. Menyitir dari Liu (2008: 84), tidak salah apabila kemudian orang-orang menyebut bahwa “sebelum ada Singkawang, sudah ada Montrado”.
Singkawang – San Kew Jong – memang sampai sekarang susah dilacak kapan tahun persisnya berdiri. Apabila berdasar atas fakta sejarah terbentuknya kongsi-kongsi awal di wilayah kekuasaan Kesultanan Sambas – salah satunya Kongsi Taikong Montrado yang berdiri tahun 1745 – maka bisa dipastikan kalau Singkawang sudah ada sejak pertengahan abad ke 18. Sebagaimana diakui oleh salah seorang Budayawan senior Singkawang (M.J. Mooridjan) dalam sebuah obrolan sore pada hari Rabu, 3 September 2008 yang lalu, beliau menyatakan bahwa Singkawang dulunya sudah pasti sebuah daerah hinterland, daerah yang berada di luar pusat kekuasaan (Sambas dan Montrado). Namun, meskipun demikian Singkawang ini menjadi salah satu tujuan (transit) dari orang-orang Tionghoa yang menjadi buruh dan kuli pertambangan emas dalam kuasa Kesultanan Sambas. Lambat laun Singkawang ini semakin tumbuh dan berkembang yang tentu saja salah satunya karena peran dominan dari orang-orang Tionghoa.
Tulisan ini dimuat di Pontianak Post, tanggal 9-10 September 2008.
Akhriyadi Sofian
Referensi Acuan
Gung Wu, Wang. 2000. China and The Chinese Overseas. Singapore: Eastern University Press.
Liu, Wu. 2008. Bahasa Hakka di Singkawang. Jakarta: Buletin Permasis Tahun ke 2 Maret-April
Lontaan, J. U. 1975. Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat. Jakarta: Bumi Restu.
Purwanto, Hari. 2005. Orang Cina Khek dari Singkawang. Depok: Komunitas Bambu.
Setiono, Benny G. 2008. Tionghoa Dalam Pusaran Politik. Mengungkap Fakta Sejarah Tersembunyi Orang Tionghoa di Indonesia. Jakarta: Transmedia.
Sikwan, Agus & Triastuti, Maria Rosarie Harni. 2004. Tragedi Perdagangan Amoy Singkawang. Yogyakarta: PSKK UGM – Ford Foundation.
Skinner, William G. 1981. Golongan Minoritas Tionghoa. Dalam Mely G. Tan (ed.). Golongan Etnis Tionghoa di Indonesia Suatu Masalah Pembinaan Kesatuan Bangsa. Jakarta: Gramedia.
Langganan:
Postingan (Atom)