Sabtu, 27 Desember 2008

Konflik Naga: Pintu Masuk Pemain Baru
Tanggal 5 Desember 2008 merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Singkawang. Masyarakat Singkawang ingin menjadi saksi pelaksanaan “ancaman” yang dicetuskan oleh beberapa kelompok tertentu, terkait dengan isu patung naga yang dibangun – baru separuh – di salah satu perempatan jalan tengah Kota Singkawang. Sebelumnya kelompok ini memang sempat memberi tenggat waktu sampai hari “H” apabila patung naga tersebut tidak dihancurkan maka selanjutnya akan dilakukan tindakan sepihak untuk menghancurkannya saat itu juga.
Kurang lebih selama tiga jam masyarakat Singkawang disuguhi ketegangan yang menjurus konflik horizontal. Sejatinya aksi sepihak yang akan dilakukan oleh kelompok yang memberi tenggat waktu tersebut berhadapan dengan kelompok lain yang tentu saja kontra dengan keinginan kelompok sebelumnya. Bukan suatu kebetulan juga polemik patung naga ini disikapi secara pro dan kontra antara dua kelompok yang membawa nama etnis masing-masing. Pihak yang pro akan pembangunan patung naga ini berada di bawah “bendera merah” etnis dayak (DAD/Dewan Adat Dayak), sebaliknya yang kontra dilanjutkannya pembangunan patung naga tersebut bernaung di bawah “bendera putih” etnis Melayu (FPM/Front Pembela Melayu).
Kedua kelompok mempunyai blue print yang jelas akan aksi yang dilakukan tersebut. Kelompok putih (etnis Melayu) menganggap pembangunan patung naga tersebut akan menjurus perpecahan di masyarakat karena menyimbolkan etnis tertentu di Singkawang. Ditakutkan penonjolan simbol salah satu etnis akan memicu etnis lain untuk membangun atau memunculkan simbol kelompoknya. Pihak ini beranggapan bahwa Singkawang adalah kota multietnik, bukan milik salah satu etnik tertentu. Apalagi kelompok ini mendapat “legitimasi” bahwa patung naga atau sesuatu yang menyimbolkan naga tidak boleh dibuat mainan, dalam hal ini tidak boleh dibangun atau dipasang di sembarang tempat semacam perempatan jalan. Setidaknya dalam orasi yang dilakukan oleh para wakil pihak putih ini – pada tanggal 5 desember – mengungkapkan bahwa naga adalah hewan sakral etnis Tionghoa yang tidak seharusnya diperlakukan sedemikian rupa, kecuali kalau dibangun pada tempat yang semestinya seperti di Pak Kung. Dalam orasi ini juga dikatakan sejatinya kelompok ini tidak memusuhi etnis lainnya – Tionghoa dan Dayak – melainkan hanya menentang pembangunan patung yang hanya menunjukkan keinginan pihak tertentu (baca: pemerakarsa) untuk mencari publisitas semata.
Sebaliknya kelompok merah ini pun tidak salah dengan mendukung pembangunan patung naga tersebut. Pihak ini turun ke jalan menentang FPM berlandaskan kecintaan akan Singkawang, yang menginginkan Singkawang menjadi kota Pariwisata, kota yang maju dan tentu saja nantinya berbuah kemaslahatan seluruh penduduk Singkawang. Yang terutama pihak ini tidak menginginkan adanya aksi sepihak oleh kelompok tertentu dengan mengandalkan penggalangan kekuatan (baca: massa), padahal ada pihak-pihak berwenang – seperti Pemkot dan jajaran instansinya – untuk menyelesaikan permasalahan patung tersebut. Setidaknya demikian sekilas background aksi yang dilakukan oleh dua kubu ini.
Masuknya Pemain Baru
Siapa pun orangnya yang ada di Singkawang, terutama yang sempat turun menyaksikan “letupan” tanggal 5 Desember kemarin pasti mafhum akan adanya “muka baru” yang ikut bermain di lapangan. Tidak hanya bermain sekilas semata, bahkan ikut mengambil peran kunci dalam peristiwa tersebut. Pemain baru ini berdiri sejajar dengan kelompok yang membawa “bendera putih” menolak diteruskannya pembangunan patung naga tersebut. Ribuan orang yang “tumplek” di jalan saat itu, dengan jelas melihat atribut pemain baru ini. Lucunya, atribut pemain baru ini yang satu-satunya terlihat “pongah” dengan beragam piranti lainnya – kendaraan dan sound system yang diboyong ke lapangan – selama aksi 5 Desember itu. Sebelumnya, saya berpikir kalau pemain baru ini hanya “membonceng” pihak FPM, namun kenyataan sangat berbeda di lapangan. Dimana atribut FPM? Atau apakah FPM dan koalisi LSM Singkawang ikut pemain baru ini? Atau jangan-jangan pemain baru ini (memang) merepresentasikan FPM dan salah satu agama tertentu di Singkawang?
Menilik dari peristiwa 5 Desember lalu, sudah sangat jelas menjadi momen terbaik bagi pemain baru ini untuk unjuk gigi, sekaligus memperkenalkan dirinya secara berterang di hadapan khalayak Singkawang. Dan harus diakui, pemain baru ini sukses melaksanakan perannya. Terlepas apakah itu mendapat simpati atau tidak dari penduduk Singkawang – khususnya etnis dan agama tertentu yang dianggap “diwakili” olehnya.
Pemain baru ini memang masih terlihat “sopan” dan tahu diri. Sangat berbeda dengan ulahnya di sebagian besar kota yang ada di Indonesia. Tidak ada tindakan anarkis destruktif sebagaimana biasa identik setiap pemain ini turun ke lapangan. Di Singkawang, sebelum peristiwa 5 Desember terjadi, pemain baru ini sudah memajang atribut dirinya di beberapa tempat strategis menindaklanjuti pendeklarasian yang menandai kedatangannya di Singkawang. Pemain baru ini (untungnya) masih mau berdialog dengan pemain-pemain lama yang merupakan pemilik Singkawang. Dan peristiwa 5 Desember lalu merupakan sebuah jalan masuk yang mulus bagi pemain baru ini. Satu hal yang tidak bisa lepas dari pemain baru ini adalah “kedok” agama (Islam) yang selalu dipakai olehnya, seolah merepresentasikan seluruh atau mayoritas pemeluk agama tersebut akan setiap aksinya. Apakah pemain baru ini memang merepresentasikan umat Islam (Melayu) Singkawang dalam setiap aksinya? Tidak! Namun embel-embel (Islam) yang dipakainya tetap menyisakan penasaran bagi yang nonMuslim. Apalagi umat Islam terbesar di Singkawang “kadung” diidentikkan dengan etnis Melayu, yang tentu saja memberi tanya besar bagi setiap etnis nonMelayu Singkawang.
Hanya sebuah Solusi
Peristiwa 5 Desember memang tidak berujung konflik fisik. Hal ini harus kita beri acungan jempol dan standing ovation bagi kinerja seluruh aparat Kepolisian Singkawang yang dipimpin langsung oleh Wakapolres Singkawang. Kedepannya kita harapkan memang tidak akan ada lagi intrik serupa atau konflik horizontal lainnya yang tentu saja akan dapat memporakporandakan Kota Singkawang yang kita cintai.
Belajar dari peristiwa 5 Desember tersebut, terdapat beberapa hal yang harusnya dengan sadar dan arif kita semua layak sikapi. Sebagaimana pernah diungkapkan oleh seorang tokoh besar etnis Tionghoa yang pernah dizalimi oleh etnisnya sendiri kepada saya beberapa saat setelah peristiwa tersebut terjadi. Beliau mengungkapkan bahwa kalau hanya sekedar mau berbuat untuk kepentingan (rakyat) Singkawang, kenapa dana pembangunan patung naga tersebut tidak dihibahkan untuk membantu rakyat Singkawang. Misalnya bantuan dapat diberikan ke etnis Tionghoa yang ada di bagian Selatan Singkawang, etnis Melayu yang ada di utara pun banyak yang memerlukan bantuan, atau etnis Dayak yang ada di Timur pun banyak yang senasib dengan saudara-saudara Tionghoa dan Melayu. Intinya bantuan dapat diberikan kepada semua rakyat Singkawang tanpa membedakan etnisnya, bukan dengan membuat sensasi yang hanya dapat menimbulkan konflik.
Harus diingat juga bahwa hendaknya pendekatan budaya tidak dilupakan untuk menyelesaikan konflik patung naga ini. Hal ini sebenarnya dilupakan oleh berbagai pihak, atau mungkin seolah diabaikan begitu rupa. Etnis Tionghoa mana yang tidak menganggap naga sebagai salah sebuah hewan sakral dalam kepercayaan dan mitologi leluhurnya? Dari anak-anak kecil hingga sudah peyot reyot, laki-laki atau perempuan, atau meskipun dia itu miskin atau sekaya apapun, naga bagi etnis Tionghoa merupakan sesuatu yang harus dihormati, tidak boleh dibuat main-main meskipun dengan alasan apapun. Di alam bawah sadar masyarakat Tionghoa (Singkawang) hal ini tertanam begitu mendalam. Terlalu besar resikonya menganggap remeh atau mempermainkan sesuatu yang sakral, apalagi hanya sekedar dibangun di perempatan jalan begitu rupa. Selayaknya masih harus diingat dan belajar dari peristiwa sebelumnya bahwa tidak dihormatinya naga – pernah dimainkan tanpa menjalankan prosesi ritual tertentu – mengakibatkan hal buruk bahkan kematian bagi mereka yang tidak menghormatinya. Siapa berani mengambil resiko sedemikian rupa? Apakah pengusaha tersebut yang jelas-jelas seorang Tionghoa mau menanggung resikonya? Saya rasa tidak.
Untuk semua pihak dan pemain lama di Singkawang, hendaknya sadar bahwa pemain baru sama sekali bukan representasi etnis dan agama tertentu dalam setiap aksinya. Pemain lama pun seharusnya mengambil sikap apakah mau dipakai sebagai kedok oleh pemain baru ini. Sebenarnya siapapun itu, entah etnis atau agama tertentu seharusnya memang tidak menggunakan kekerasan dalam setiap aksinya. Ini yang harus disepakati oleh semua pihak di Singkawang. Tidak susah berdialog – antara semua pihak – untuk menyelesaikan setiap konflik.
Kembali kepada pemerintah Kota Singkawang sebagai pihak yang paling berwenang. Apakah akan melanjutkan sifat dan sikap “memble” sedemikian rupa sehingga membiarkan “api” yang semula kecil kemudian membesar dan akhirnya membakar Singkawang baru bertindak? Atau mungkin Pemkot sedang kebingungan bagaimana menjadikan Singkawang menjadi Spektakuler, sehingga secara asal dan untuk kepentingan pragmatis semata melupakan budaya dan kesakralannya? Kalau memang mau “menjual” kesakralan salah satu budaya tertentu untuk tujuan wisata, tidak lantas mengabaikan aturan, prosesi, dan ritual dari budaya itu. Sebaliknya bahkan prosesi dan ritual itulah tempat nilai jual budaya tersebut. Saya yakin Pemkot pasti sudah banyak belajar dari Bali ataupun Yogya – kalau belum seharusnya segera – bagaimana mengemas sesuatu yang sakral menjadi aset wisata yang sangat menguntungkan. Bali merepresentasikan religiusitas penduduknya yang mayoritas Hindu, sedang Yogya mampu menjual model “keIslaman” rakyatnya sehingga tidak terbilang wisatawan domestik maupun manca tanpa bosan mendatangi dua tempat ini. Bali dan Yogya memang sangat berbeda dengan Singkawang. Historisnya, penduduknya, nuansanya, semuanya berbeda. Kenapa tidak mulai dari yang kecil atau sesuatu yang sudah umum namun identik dengan Singkawang? Yogya salah satunya hanya mengandalkan pohon beringin – yang disakralkan – untuk mengundang wisatawan setiap malam berkungjung ke salah satu sudut Kota Yogya tersebut.
Bagaimana dengan Singkawang? Memang tidak mudah dan tentu saja memerlukan waktu, namun tidak salah untuk mulai sekarang berusaha mewujudkannya. Dan Pemkot sebaiknya legawa dan tidak arogan kepada pihak-pihak yang tulus berbuat untuk Singkawang, bukan pihak yang hanya mencari sensasi dan publisitas semata, dan ternyata memicu konflik.

Minggu, 21 Desember 2008

murid2ku,anak2 pengungi semelagi hulu

inilah mereka beberapa anak2 pengungsi semelagi hulu,kecamatan singkawang utara yang menjadi murid2ku selama di dalam camp pengungsi banjir.malam kami belajar bersama,study english!untung saja mereka sudah pada libur, so agak malam sedikit mereka tidak masalah untung tetap belajar.hadiah buat mereka tu ada di masing2 tangan mereka,satu bungkus roti!mereka tetap ceria dan semangat belajar meskipun lingkungan dan rumah mereka kebanjiran.tidak masalah juga meskipun belajarnya di dalam tenda terpal pinggir jalan raya yang mana penuh asap dari masakan yang dimasak oleh relawan2 lainnya bersama penduduk.semangat belajar,hello..good evening...how are you..??!

mandi air di kala banjir


banjir bagi sebagian orang adalah sangat menyusahkan.namun, unikny bagi sebagian besar penduduk singkawang,banjir menjadi berkah tersendiri meskipun banjir membawa kerugian juga.berkah tersebut adalah mereka bisa berenang dan bebas mandi air sepuasnya di tengah air banjir yang keruh.tidak hanya orang tionghoa,etnis lainnya pun demikian.mungkin mikirnya karena kelangkaan kolam renang di singkawang so kenapa tidak memanfaatkan bencana alam untuk bersenang-senang?di tengah bencana,tidak ada salahnya untuk tetap have fun,sapa tahu dapat jodoh juga kan?loh?!

Kelurahan Semelagi Kecil di Singkawang Utara

banjir,banjir,banjir!!!singkawang kebanjiran.cuaca yang memang buruk dan hampir setiap hari dan malam hujan mengguyur singkawang mengakibatkan banjir di hampir seluruh kota singkawang. contohnya salah satu kelurahan di kecamatan singkawang utara yang hampir seluruh bangunannya terendam banjir. daerah ini semakin parah karena jebolnya juga salah satu tanggul di bendungan air kelurahan semelagi kecil,ditambah hujan...jadinya banjir.

Senin, 03 November 2008

Seorang Diri

Jumat, 31 Oktober 2008

Amoy Warung Kopi Singkawang

Amoy (Warung Kopi) Singkawang: Bukan Perempuan Biasa
Singkawang sangat familiar dan terkenal dengan julukan “Kota Amoy”. Hongkongnya Indonesia ini menyimpan mutiara-mutiara oriental yang sungguh menakjubkan. Tidak di rumah semata, tidak pula sebatas pagi hari, atau hanya sesosok putri anggun menawan, lebih dari itu untuk menggambarkan Amoy Singkawang. Kita bisa temukan di jalan-jalan raya Singkawang manapun, bahkan di sudut-sudut gang yang banyak membelah Singkawang. Semaraknya kehidupan malam Singkawang menjadi dunia sendiri bagi (sebagian) Amoy. Mereka pun menjadi kupu-kupu malam yang berkeliaran di belahan bumi seribu kuil ini.
Kupu-kupu oriental itu semakin tampak menawan di antara kumbang-kumbang malam warung kopi Singkawang. Keindahan dan eksotika pesona mereka membuat semarak malam-malam kelam kota Singkawang. Balutan busana modist nan sexy menyelimuti tubuh molek tersebut, menyajikan sensasi tersendiri di warung kopi. Kumbang-kumbang itu semakin betah dan tiada bosan apalagi sesekali sang kupu tanpa sungkan dan malu berada diantara mereka. Sang kupu melayani keperluan mereka, meracik minuman dan makanan, sekaligus mengantarkan untuk mereka, tak jarang pula menuangkan minuman hanya untuk kepentingan mereka. Tangan-tangan putih dan halus itu begitu indah namun gesit menyulap segala macam minuman dan makanan untuk dikonsumsi sang kumbang. Lenggang halus serta gerak tubuh yang gemulai dan sesekali mengeluarkan suara dari sebentuk mulut kecil berbibir tipis sang kupu menambah mabuk sang kumbang.
Memang tidak lama sang kupu itu hinggap di tempat istirahat sang kumbang karena kumbang-kumbang lain pun pergi dan menjelang begitu rupa. Tentu saja sang kupu harus sigap terbang dan mengepakkan sayapnya ke kumbang-kumbang lainnya. Sang kupu memang dituntut untuk berganti rupa dan keindahan untuk setiap kumbang yang berbeda-beda. Dia harus menyenangkan hati semua kumbang yang mempunyai rupa serta corak yang juga beragam itu.
Tersubordinasi secara Kultural
Seorang amoy tiba-tiba berdiri menanggapi pertanyaan saya kepada para pembicara pada salah sebuah pertemuan guru swasta bahasa Mandarin beberapa waktu lampau di SMP-SMA Barito. Saat itu saya ingin mengetahui bagaimana tanggapan para pembicara – pembicara utamanya adalah seorang Professor dari Tiongkok – mengenai image Singkawang sebagai Kota amoy, image amoy yang negatif, yang terus terang saya telan mentah-mentah sebagai bekal saya ketika mendatangi Singkawang. Dia tidak sepenuhnya menolak hal tersebut, bahkan secara tidak langsung memberikan “pengakuan” berharga kepada saya bahwa sesungguhnya kondisi amoy Singkawang terutama di daerah sekitar tempat tinggalnya – Kaliasin – sangat memprihatinkan. Kemiskinan ekonomi disebutnya sebagai faktor utama, apalagi
Kupu-kupu malam ini menjadi image sentral kota Singkawang yang sangat kental dengan keindahan sosok mereka. Sosok mereka sudah sejak ratusan tahun lalu digambarkan oleh George Windsor Earl (Mooridjan, terj. 2003) sebagai perempuan yang an ciang dengan kaki-kaki yang selalu tetap terpelihara bersih, betis yang indah dan tentu saja dengan sifatnya yang ramah dan halus. Personifikasi perempuan Tionghoa ini sangat kontras dengan laki-lakinya yang terkesan kasar, seram, dan kurang bersahabat terutama terhadap pihak-pihak yang belum dikenalnya.
Keberadaan Amoy Singkawang di warung kopi (warkop) dewasa ini, sungguh patut menjadi rujukan penghargaan seorang Earl terhadap perempuan Tionghoa yang ditemuinya dalam perjalanan menuju Montrado(k). Amoy ini rata-rata berumur belasan hingga duapuluhan tahun, dan sudah terjun ke “dunia malam” untuk bekerja. Mereka memang ada yang sudah tidak sekolah, namun tidak sedikit pula yang masih sekolah. Mereka yang benar-benar kerja – dari sejak petang sekitar pukul 18.00 hingga dinihari sekitar pukul 02.00 – dan masih berstatus sebagai siswi sekolah mempunyai trik tersendiri untuk mengatur waktu mereka. Strategi (manajemen waktu) – tidak lepas dari peran seorang ibu – biasanya menempatkan jam sekolah mereka pada siang hari hingga sore. Pagi (dini) hari setelah tutup warkop mereka manfaatkan untuk istirahat beberapa jam. Karena mereka juga “harus” bangun pagi untuk membantu orang tua (ibu) melakukan pekerjaan rumah seperti membersihkan rumah, pergi ke pasar, masak, ataupun merawat adik-adik mereka yang masih kecil.
Rutinitas yang dilakoni Amoy ini menegaskan sebuah peran rangkap tiga (triple role) perempuan dalam masyarakat. Peran domestik – yang selalu dialamatkan kepada perempuan – terlihat dari pekerjaan rumah yang tidak bisa mereka lalaikan. Sedang peran publik – sebaliknya selalu diakui oleh laki-laki – pun mereka jalani dengan bekerja semalam suntuk di warung kopi. Meskipun dua peran itu sudah mereka lakoni, perempuan (Amoy) ini masih diposisikan subordinat secara budaya dalam masyarakat (Tionghoa) yang masih patriarkat. Bagaimana dengan laki-laki (Tionghoa) di pihak lain? Tentu saja sangat kontras dengan peran Amoy, mereka hanya bergelut pada pentas publik dan hal tersebut terlegitimasi secara budaya. Salah satu budaya yang dimaksud ini adalah nilai-nilai ajaran Konfusian. Pratiwi (1995: 223) mengungkapkan bahwa ajaran Konfusian ini menempatkan laki-laki mempunyai hak yang lebih tinggi dari perempuan, peran perempuan dan identitas yang dimiliki oleh mereka didefinisikan dari laki-laki atau suami mereka. Dalam falsafah kosmologi Yin dan Yang ajaran Konfusian – Yin adalah representasi perempuan sedang Yang merepresentaskan laki-laki – inferioritas yang dialami perempuan dilihat sebagai bagian dari hukum alam atau praktik-praktik sosial yang konsisten dengan kepercayaan itu.
Sangat jarang perempuan seperti Amoy Singkawang. Faktor ekonomi bukan menjadi rahasia umum lagi untuk mengulik alasan Amoy menjalankan peran mereka tersebut. Namun terdapat satu hal lain yang setidaknya – lagi-lagi secara kultural – entah itu disadari atau tidak menempatkan mereka pada posisi sedemikian rupa. Hal tersebut tidak lain adalah “hao” atau tindakan bakti seorang anak terhadap orang tua dalam keluarga Tionghoa, yang mana disebut juga sebagai filial piety. Mengatasnamakan “hao” inilah maka terjadi inferioritas terhadap perempuan (Amoy) dalam keluarga Tionghoa.
Nilai-nilai budaya ini setidaknya menimbulkan apa yang disebut sebagai “kepatuhan sosial” perempuan terhadap orang tua dan laki-laki. Orang tua dan termasuk juga laki-laki Tionghoa melegitimasi kekuasaan mereka atas diri Amoy dalam wujud kepatuhan yang harus selalu ditunjukkan oleh para Amoy tersebut. Kepatuhan-kepatuhan sosial perempuan sebagaimana dialami oleh Amoy Singkawang tidak terlepas dari ideologi nature dan culture atau obyek dan subyek perempuan yang mana perempuan ditempatkan sebagai obyek dalam dunia laki-laki (culture) (Cormack, 1980; Rosaldo, 1983 dalam Abdullah, 2001: 49). Kepatuhan sosial yang dituntut oleh orang tua dan keluarga (laki-laki) kepada Amoy Singkawang merupakan bukti adanya ketimpangan konstruksi gender dalam kehidupan keluarganya.
Permasalahan Amoy: Permasalahan Ketimpangan Gender atau…?
Gender dan permasalahannya tidak terlepas dari wilayah (lokalitas) dan waktu terjadinya. Mengenai hal tersebut, gender (sosial) menurut Ivan Illich (1998: 13) disebut sebagai sebuah dualitas yang pada umumnya bersifat lokal dan terikat waktu, yang berlaku pada laki-laki dan perempuan dengan berbagai keadaan dan kondisi yang mencegah mereka berkata, berbuat, berangan-angan, atau berpikir tentang ‘hal yang sama’. Selanjutnya Ivan Illich (ibid. , hal.45) mengatakan bahwa gender bukan hanya sekedar menyangkut jenis kelamin, namun gender juga mengisyaratkan polaritas sosial yang sifatnya fundamental dan tidak akan sama di berbagai tempat. Gender adalah sesuatu yang memang membedakan (mengidentifikasi) setiap orang sebagai feminin atau maskulin dan permasalahannya berbeda di berbagai tempat. Bagaimana dengan identifikasi gender pada “kasus” Amoy Singkawang?
Heidhues (2003: 38) menyebutkan bahwa peran gender diantara orang-orang Hakka (Khek) Kalimantan Barat sangat sedikit terlihat daripada orang-orang Cina lainnya. Salah satunya mencontohkan betapa perempuan-perempuan Hakka terbiasa untuk bekerja di luar (ladang, sawah) dan lebih independen daripada perempuan-perempuan Cina nonHakka. Dan memang terbukti kalau polarisasi peran gender antara perempuan dan laki-laki Tionghoa tidak begitu kentara terkait dengan fenomena Amoy Singkawang dewasa ini. Sebaliknya peran Amoy sangat signifikan dalam kehidupan keluarga Tionghoa. Mereka menjadi tulang punggung perekonomian keluarga – dengan bekerja di panggung publik sebagaimana laki-laki – tanpa melalaikan kodratnya sebagai perempuan untuk bergelut dalam wilayah domestik rumah tangga.
Sosok Amoy dengan segala peran dan bakti (hao) tidak lantas merubah kehidupannya – dan keluarga – menjadi layak baik secara ekonomi ataupun kultural. Kembali kita heran bagaimana hal tersebut bisa terjadi. Padahal jerih payah kerja membanting tulang yang ditunjukkan mereka, serta totalitas dalam bakti seharusnya berbuah kepada kesejahteraan kehidupan. Setidaknya dalam penelitian saya, permasalahan urgen-nya adalah pendidikan. Keinginan untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin sangat minim diantara Amoy Singkawang, dan ironisnya tidak sedikit disebabkan oleh orang tua. Porsi terhadap pendidikan diantara Amoy ini, sebut saja (jam) belajar, sangat jauh dibandingkan dengan “tuntutan” ekonomi dan budaya yang harus mereka praktikkan dalam keseharian mereka. Bayangkan saja, bagaimana mereka bisa mempunyai cukup waktu untuk belajar apabila mulai petang sampai dinihari harus bekerja, kemudian pagi hari mereka harus membantu orang tua sampai siang menjelang waktu sekolah mereka. Tidak heran apabila PR (pekerjaan rumah) jarang atau tidak dikerjakan sama sekali.
Dibalik kekaguman saya yang sangat akan Amoy Singkawang, sungguh terdapat rasa miris dan sedih akan kurangnya mereka dalam hal pendidikan. Seharusnya dengan etos kerja yang sangat baik – sebagaimana ditunjukkan oleh para Amoy – dan hao terhadap orang tua (keluarga), apalagi didukung dengan modal pendidikan yang cukup, maka kehidupan keluarga Tionghoa Singkawang akan jauh dari kemiskinan. Sehingga image Amoy Singkawang sebagai “dolar” atau “barang ekspor” untuk laki-laki luar negeri bisa hilang atau lambat laun pasti akan sangat berkurang. Pemerintah, instansi pendidikan, masyarakat dan lembaga yang concern akan permasalahan Tionghoa (Singkawang) selayaknya peka akan hal ini.
Akhriyadi Sofian
Referensi Acuan
Abdullah, Irwan. 2001. Seks, Gender, dan Reproduksi Kekuasaan. Yogyakarta: Tarawang Press.
Earl, George Windsor. 1932. The Eastern Seas (terj. Mooridjan: 2003). America: Oxford University Press.
Heidhues, Mary Somers. 2003. Golddiggers, Farmers, and Traders in the “Chinese District” of West Kalimantan, Indonesia. New York: Cornell University.
Illich, Ivan. 1998. Matinya Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Pratiwi, Restu. “Wanita Pada Masa Tradisional Cina”, dalam Konfusanisme di Indonesia Pergulatan Mencari Jati Diri. 1995. Yogyakarta: Interfidei.

Jumat, 10 Oktober 2008

babi peliharaan di hang mui

baru pertama kali lihat babi alias cunyuk secara langsung...hihi,lucu!tapi uniknya kandangnya ga bau dan tentu saja bikin heran seorang teman dari swiss, karena menurutnya kandang-kandang babi di swiss tu bau-bau. atau memang karena selalu disiram dan dibersihkan tiga kali setiap hari?it could be. makan mereka juga memang tiga kali sehari.nantinya babi-babi ini utamanya untuk dijual selain tentu saja untuk dikonsumsi.sayang karena batasan-batasan moral dan agama,serta tentu saja karena tidak bisa dikarenakan tidak biasa, maka seorang calon antropolog tidak pernah merasakan nikmatnya cunyuk alias B2 di Singkawang...